JABAR EKSPRES – Kebijakan Kementerian ESDM yang melarang penjualan Gas elpiji 3 Kg ke pengecer dan harus membeli langsung ke pangkalan mendapat kecaman dari masyarakat.
Diberbagai platform media sosial masyarakat ramai-ramai mencem kebijakan kementerian ESDM tersebut sevagai tindakan yang justru menyengsarakan masyarakat.
Kebijakan ini justru membuat mengalami kesulitan untuk dapat gas elpiji 3 kg itu. Antrean untuk dapat gas Elpiji 3 Kg itu terjadi dimana-mana.
Baca Juga:Bus Sekolah Milik Pemkot jadi Besi Tua, Dishub Kota Bandung Tidak Bisa Ngurus!Dedi Mulyadi Beri Dua Opsi Pembebasan Ijazah untuk Sekolah Swasta
Pemerintah melarang penjualan gas elpiji 3 Kg di pengecer. Harapannya agar gas bersubsidi ingin tepat sasaran. Akan tetapi alih-alih melakukan penataan distribusi, gas elpiji 3 kg justru sulit didapatkan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim tidak ada pembatasan kouta atau terjadi pemangkasan subsidi. Hanya saja masalah ini terjadi karena masa transisi.
Menurutnya, masa transisi ini menyebabkan perubahan kebiasaan masyarakat yang terbiasa membeli di pengecer.
‘’Ini kan menyebabkan perubahan kebiasaan di masyarakat saja, yang tadinya beli di pengecer jadi di pangngkalan,’’ ujar Bahlil kepada wartawan, dikutip, Selasa, (04/02/2025).
Bahlil menginginkan agar masyarakat membei langsung gas elpiji 3 Kg di pangkalan resmi, Hal ini dilakukan dengan alasan agar subsidi yang diberikan tepat sasaran.
Kebijakan ini juga ingin mendorong agar pengecer yang selama ini menjual gas elpiji 3 kg, mendaftar menjadi pangkalan resmi dan dapat menjual gas elpiji secara legal.
‘’Ini juga membantu memastikan ketersediaan gas di pasaran dan mengurangi potensi kelangkaan,’’ ujar Bahlil.
Baca Juga:Honor Akan Banjiri Pasar Smartphone Indonesia dengan Teknologi Canggih tapi Harga Murah meriah!Penyelewengan Dana PIP Diduga Terjadi di Kampus Lain
Menurutnya, kebijkan baru ini justru ingin membantu masyarakat mendapatkan das elpiji 3 kg dapat harga tidak terlalu tinggi dan sesuai dengan ketntuan pemerintah.
Bahlil meminta kepada masyarakat untuk berikan waktu untuk mengatur masalah itu. Namun dia mengakui masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar yang terkenal dengan nama gas melon itu.
