Kurikulum Merdeka: SMAN 1 Cimahi Dorong Pembentukan Karakter dan Kreativitas Siswa

JABAR EKSPRES – Kurikulum Merdeka bertujuan agar siswa dapat mengembangkan pemikiran terbuka dan kritis, mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan dunia dengan lebih siap.

Seperti halnya di SMAN 1 Cimahi, siswa mendapati pendekatan kurikulum merdeka yang diterapkan melalui metode pembelajaran. Mereka dibimbing untuk memahami dan menguasai pengetahuan umum dengan lebih baik.

Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) memberikan kesempatan pada siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dan penguatan dalam mengemban enam profil pelajar Pancasila.

Humas SMAN 1 Cimahi, Ano Suwarsono menjelaskan kurikulum merdeka di SMAN 1 Cimahi merupakan tahun kedua. Kurikulum tersebut terbagi menjadi dua yaitu kurikuler dan kokurikuler.

BACA JUGA: Techno Park Cimahi Jadi Peluang Ekraf Anak Muda

“Kurikuler itu, diawal tahun bulan Juli sampai Oktober pemberian materi sesuai mata pelajaran. Untuk bulan November memberikan materi sesuai dengan tema, itu masuknya kokurikuler jadi bukan mata pelajaran namun sesuai profil Pancasila,” ucapnya saat ditemui Jabar Ekspres, Senin (16/10) di SMAN 1 Cimahi.

Masing-masing tingkat kelas mendapatkan kurikuler dan kokurikuler yang berbeda-beda. Seperti kelas 10, yang mendapatkan tema mengenai pembentukan karakter, kewirausahaan, kearifan lokal dan gaya hidup berkelanjutan.

“Untuk kelas 11 ada tiga tema yaitu kebhinekaan, rekayasa teknologi, dan demokrasi. Jadi siswa dalam satu tahun sudah belajar 9 tema yang mencakup pembentukan karakter,” ucap Ano.

Pembentukan karakter menjadi pondasi utama bagi perkembangan individu. Membangun nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, dan empati esensial untuk menciptakan masyarakat yang berdaya dan beretika. Inisiatif pendidikan yang fokus pada pembentukan karakter membantu mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga berintegritas.

Implementasi pembentukan karakter siswa di SMAN 1 Cimahi dilakukan dengan cara observasi pada lokasi yang sudah ditentukan. Menurut Ano, tujuan kegiatan tersebut agar siswa dapat lebih berani menghadapi dunia luar dan berfikir kreatif.

“Untuk expo tahun kemarin, kelas 10 kita expo yang dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan (KCD), guru, dan siswa dari sekolah lain untuk sharing. Yang ditampilkan merupakan tiga tema yang siswa peroleh, seperti kearifan lokal kita mengambil data primer dari kampung naga di Tasik, untuk kewirausahaan kita ke Garut yaitu dodol, dan untuk gaya hidup kita menghadirkan narasumber dan workshop pembuatan batik ecoprint dengan motif yang menggunakan dedaunan,” jelasnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan