JABAR EKSPRES – Para demonstran berkumpul di depan Kedutaan Besar Prancis di Wina untuk menentang keras larangan abaya di sekolah-sekolah Prancis baru-baru ini.
Protes damai yang terorganisir ini diikuti oleh para peserta yang mengenakan gaun-gaun yang melambai, mengacungkan spanduk-spanduk yang dihiasi slogan-slogan yang kuat, seperti “Abaya adalah hak dan identitas kami. Menghakimi perempuan berdasarkan pakaian adalah tidak adil,” dan “Pakaianku, pilihanku.”
Tujuan utama dari protes ini adalah untuk menyampaikan ketidaksetujuan yang mendalam terhadap keputusan Prancis baru-baru ini yang melarang pemakaian abaya di lingkungan pendidikan.
Baca Juga:PBB: Korban Tewas dalam Banjir Dahsyat di Libya Telah Mencapai 11.300 OrangBelasan Orang Tewas dalam Kecelakaan Pesawat di Brasil
Bolat menggarisbawahi pentingnya demonstrasi tersebut dalam menyoroti masalah yang jarang dibahas ini dan menekankan penolakan tegas para demonstran terhadap penerapan larangan tersebut di Prancis.
“Perempuan harus memiliki otonomi untuk memutuskan bagaimana mereka ingin berpakaian. Sama seperti saya dan banyak orang lain di sini, perempuan harus bisa memilih apakah akan mengenakan abaya atau rok pendek. Keputusan ini seharusnya berada di tangan perempuan itu sendiri,” ungkapnya, seperti dikutip TRT World dari Anadolu Agency, Minggu, 17 September 2023.
Menteri Pendidikan Prancis Gabriel Attal menjadi berita utama dalam beberapa minggu terakhir dengan mengumumkan bahwa siswa yang mengenakan pakaian tradisional akan dilarang menghadiri kelas di tahun ajaran mendatang.
