Peta Permasalahan Arus Informasi di Era Post-Truth

JABAR EKSPRES – Kita saat ini jika merujuk kepada Teori Kepemimpinan Warren Bennis dan Burt Nanus, sedang berada dalam kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Di mana perubahan bisa terjadi sangat cepat, tidak terduga, dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit dikontrol, dan kebenaran serta realitas menjadi sangat subyektif.

Perkembangan teknologi dan informasi menjadi salah satu pengaruh terbesar dari perubahan ini. Bagaimanapun juga kita tidak bisa menghindari kemajuan, tetapi harus bisa beradaptasi dengan kemajuan itu sendiri. Kecepatan teknologi dan informasi bukan sekadar memengaruhi gaya hidup tetapi juga memengaruhi bagaimana kita akan mendidik anak-anak dalam menghadapi dunia yang lebih maju, lebih cepat, informasi makin sulit disaring, persaingan makin terbuka.

BACA JUGA: E-learning jadi Salah Satu Perkembangan Teknologi Informasi

Bahkan saat dan pasca pandemi Covid-19, mengakibatkan istilah VUCA mulai mengalami perubahan dan bergeser menjadi BANI untuk menjelaskan model, peluang dan tantangan relasi ekonomi – sosial yang bermuara pada munculnya permasalahan – permasalahan hukum yang relatif baru.
BANI merupakan singkatan dari Brittle (rapuh), Anxiety (penuh kekhawatiran), Non-Linear (tidak linear) dan Incomprehensible (sulit dipahami).

BANI pada dasarnya menggambarkan sebuah kondisi pasca memasuki suatu era yang disebut era Post Truth. Istilah ini mulai dikenalkan tahun 1992 oleh Steve Tesich dalam tulisan berjudul The Government of Lies. Tulisannya dalam majalah The Nation tersebut merupakan bentuk ungkapan kegelisahan atas propaganda negara-negara yang terlibat dalam Perang Teluk yang dinilai membingungkan publik global, dimana kebenaran dan kepalsuan menjadi hal yang sulit untuk dibedakan. Terkadang masyarakat merasa bingung dengan berita-berita maupun opini-opini yang beredar, bahkan cenderung terpolarisasi menjadi kutub – kutub yang saling berhadapan.

Dalam kondisi seperti ini, seringkali fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan emosi dan keyakinan personal.

Apalagi di era medsos saat ini, setiap orang yang memiliki telepon seluler atau smarphone seolah – olah ‘otomatis’ menjadi jurnalis, bahkan sering kebablasan karena menyiarkan (sharing) berita tanpa disaring terlebih dahulu melalui apa yang disebut konfirmasi atau validasi berita.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan