JABAR EKSPRES – Fenomena suhu dingin yang terjadi pada sumlah wilayah di Indonesia, termasuk Bandung dan sekitarnya dijelaskan oleh Kepala Badan Meteoroli, Klimatlogi, dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung, Teguh Rahayu.
Menurut Teguh Rahayu, suhu dingin yang terjadi belakangan ini merupakan fenomena alamiah yang memang umum terjadi saat memasuki masa puncak kemarau pada bulan Juli hingga Agustus.
“Pada tanggal 14-18 Juli, BMKG mencatat suhu Kota Bandung sempat mengalami kenaikan dari 19 derajat ke 20 derajat celsius. Namun pada tanggal 18 Juli memang terjadi penurunan suhu ke 17 derajat celsius,” ujar Teguh Rahayu pada Kamis (20/7), dikutip dari bandung.go.id.
Baca Juga:Apple Disebut Tengah Kembangkan Produk AI, Saingan ChatGPT dan Bard?Cara Merawat Kelembapan Wajah dengan Masker Alpukat, Cocok untuk Kulit Kering!
Hal ini dikarenakan pada malam hari, energi akan dilepaskan oleh bumi akibat tidak adanya awan. Sehingga, radiasi yang tersimpan di permukaan bumi akan dilepaskan secara maksimal saat malam hari hingga dini hari.
Namun, hal tersebut tidak terjadi pada siang hari, dimana terik matahari akan maksimal terpancarkan dan membuat permukaan bumi menerima radiasi dengan penuh.
“Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat karena kehilangan energi secara maksimal. Dampaknya adalah suhu minimum atau udara dingin yang ekstrem di malam hingga dini hari,” papar Teguh Rahayu.
Kemudian Teguh Rahayu juga menyebut, jika penyebab lain dari suhu dingin pada musim kemarau diakibatkan terjadinya musim dingin di Australia.
