Puting Jantan

Juve Zhang

Mantan Ka Bareskrim pak Susno menohok sekali dalam wawancara dengan media, ini otopsi kualitas rendah,beliau malah minta dokter forensik di non aktifkan. Jadi otopsi ulang yg turun gunung para Pakar Forensik kelas Berat semua. Para dedengkot forensik akan turun tangan dari berbagai RS .sangat bagus, supaya lebih ber kualitas hasil otopsinya.

 

Jimmy Marta

Semalam habis arisan keluarga ditempat sepupu. Pas mau pulang ada ponakan yg ngasih duren. Kebenaran apa bukan dikasih tiga. Sedikit senyum sy bilang, “ini kayaknya sengaja dikasih tiga”. Ponakan juga senyum, tp kyk nya gk mafhum…hehe. Maklum bukan jamaah diswayah… Ditarok dibagasi, perjalanan pulang 10 km-an semerbaknya minta ampun. Bbrp titik dipinggir jalan jga banyak onggokan duren. Bersyukur empat orang dimobil semua penggemar. Ini duren kampung, bukan musang king. Tetap gurih dan lezat. Bahkan digemari musang dan tupai. Dimakan saat diluar hujan..nikmat! Peringatan! Boleh makan banyak, jangan berlebihan. Apa ukurannya? Mudah, belilah sepuluh duren, makan bersama tiga puluh orang. Dijamin pasti bebas masalah. Yg aneh itu duren tiga aja kok bisa jd masalah..! Itu mungkin karena yg makan satu orang. Tercium banyak orang.

 

Surja Wahjudianto

Lingkari jawaban yang benar. “Walaah, kok Abah nulis tentang Brigadir Joshua lagi siiih,” banyak yang protes. Kalau saya setuju dan mendukung. Biar gaungnya lebih terasa. Ini kasus besar. Yang melibatkan orang-orang besar. Potensi untuk membolak-balik fakta juga besar. Kalau Abah, yang punya pengaruh besar, tidak ikut “mengawal” kasus ini, maka Abah … a. Dosa besar b. Menyesal besar c. Malu besar d Mandi besar

 

rihlatul ulfa

drama dalam laporan pelecehan seksual tadinya mungkin di giring untuk bisa mengintimidasi kematian brigadir J,dengan dahlil agar masyarakat mengencam nya,memakluminya.setelah itu kematian menjadi wajar. sayangnya mereka membuka keanehan itu sendiri ke depan publik,cctv tiba2 rusak 2 minggu yang lalu,banyaknya luka2 di tubuh korban,seberapa besar masalah yang di ketahui brigadir J? sehingga menyebabkan penganiayaan parah itu terjadi. juga kenapa kita harus menanggung,memberesi kesalahan orang yang tidak punya hati nurani hanya karena satu institusi. jika penembakan betul ber tkp di duren 3 total mereka tembak2-an 12 kali,bukan kah agak aneh para tetangga di sana tidak ada yang mendengarnya sama sekali? tidak ada ambulance datang. terlalu banyak celah untuk bisa di tutupi dengan kebenaran yang nyata.

 

adi ya adi

Di saat banyak tulisan abah dis yg mengiginkan media mainstream utk kembali lg dbg media terpercaya d tengah banyak berita HoAX medsos dan latahnya media mainstream….. IRONIS nya media DISWAY jg memuat berita yg mengarahkan utk clickbait pembaca… Contoh di muatnya berita dg judul “inilah pengakuan Vera Simanjuntak pacar brig J….. , Bukti baru terungkap. Posting 25 juli 2022 jam 05.54. sampai akhir tdk ada isi yg mengarah sesuai judul….

 

Alex Ping

SEANDAINYA… Sang Bos adalah Bos mafia besar. 1. Bisa jadi kasusnya tidak pernah terungkap, hal yang penting disini adalah bagaimana bisa membuat keluarga “menerima” apa yang terjadi. (mungkin musibah kapal tenggelam dst) atau seluruh keluarganya dibungkam. 2. Seandainya terungkap sampai ke pihak yang berwajib karena laporan keluarga dan bukti2 yang ada, maka masih akan ada upaya untuk mencari “pahlawan untuk pasang badan” – maksudnya kambing hitam tapi yang ikhlas, meskipun ikhlasnya karena ada imbalan. 3. Seandainya bukti-bukti tadi ternyata mengarah ke sang Bos besar, maka akan diusahakan diulur waktu selama mungkin. 4. Seandainya injury time tadi sudah habis, maka masih ada extra time barulah setelah lewat 2x extra time dilanjutkan adu penalti. Hati hati! Sering kali dalam extratime banyak blunder dan gol bunuh diri. ( contoh: kambing hitamnya bunuh diri setelah tiba-tiba membuat video pengakuan, atau mayat korban hilang). Ingat ini menggunakan sistem sudden death, begitu kecolongan habislah sudah. 5. Penalty Time!!! It’s always fifty-fifty. (Bisa Sang Bos kabur dan menghilang, atau Terungkap semuanya). Nb: Konon katanya kalo didunia bola, semuanya bisa diatur oleh sang Bandar.

 

Macca Madinah

Coba insan film/tv/dst di Indonesia berani bikin serial seperti Law & Order, Boston Legal, dst, pasti akan jauh lebih menarik daripada sinetron berjilad-jilid gak jelas yang masih semarak sampai saat ini. Sumber ide buanyaaakkk banget, kasus aneh berlimpuahhhhh. Tapi memang kuatirnya, kalau mengikuti standar barang bukti seperti serial CSI, jangan-jangan semua bukti yang terkumpul dianggap “tercemar”, belum lagi kalau melihat di sini pengadilan diputuskan oleh hakim bukan juri, hmmmm. Setelah dipikir-pikir lagi, pantes saja produser bertahan pada tema sinetron berjilid-jilid itu wkwkkwkw.

 

Johan

Sesuai keterangan Divisi Humas Polri, demi kasus ini mereka dan para petinggi institusi Polri rapat setiap hari sampai dini hari. Intinya mereka bekerja keras. Hargai dong kerja keras mereka.

 

azid lim

Begitu kuatnya sosok Ferguso Singh ini dalam kasus Brigadir J salah satu cara untuk mengawalnya adalah para pengacara Batak harus bersatu padu karena mereka akan memainkan skenario lewat science crime investigation padahal banyak bukti sudah dihilangkan jejaknya , sungguh memalukan . Dan harapan kedua Pak DI harus mengawalnya lewat harian Disway ini demi keadilan yg seadil adilnya dan yang ketiga ingat masih ada Tuhan di atas segala galanya.

 

Johan

Baca berita, hp para saksi yakni hp pacar dan keluarga alm. Brigadir J disita untuk diperiksa. Jadi teringat hp Firza yang disita untuk pemeriksaan polisi, tidak lama kemudian ada beredar foto-foto dan screenshot yang seharusnya adalah privasi pemilik hp. Kasus ini mudah dipecahkan, tapi prosesnya yang tidak mudah. Ibarat buka celana sendiri ke umum untuk menunjukkan bisul yang tumbuh di kemaluan. Bisulnya kelihatan umum berikut penampakan anunya.

 

Fauzan Samsuri

Kalau di tempatku ada makam yang dijaga 40 hari 40 malam bahkan dibacakan kitab suci, yang seperti ini sama permintaan keluarga, kaitannya bukan dengan hukum di dunia semata tapi hukum akhirat juga

 

LiangYangAn 梁楊安

“Mene, mene tekel ufarsin” Bahasa Ibrani: מנא ,מנא, תקל, ופרסין (Mene, Mene, Tekel u-Pharsin) merupakan bahasa Aram untuk satuan uang: Mene, satu mina ; Tekel, satu syikal ; Peres, setengah mina. “Tulisan di dinding” merupakan sebuah frasa idiomatik yang melambangkan nasib buruk yang pasti akan segera datang. Frasa ini berasal dari catatan Alkitab di Kitab Daniel pasal 5:1-31 ketika sebuah tangan terlihat menuliskan di dinding tentang keruntuhan Kekaisaran Babilonia Agung yang digenapi malam itu juga. Selengkapnya mengenai Kisah Raja Belsyazar (anak Nebukadnezar) di Kitab Daniel 5:1-30. Pada malam ketika Raja Belsyazar dibunuh, Darius orang Media menerima pemerintahan (menjadi Raja). Kitab Daniel 5:31.

 

Gianto Kwee

Mene Mene Tekel Upharsin, Tulisan didinding istana raja Belshazzar, Daniel 5:30-31 Konon arti 4 kata sebagai berikut : “Dihitung, Dinomori, Ditimbang dan Dibagi” ada beberapa tafsiran dari tulisan tersebut, salah satunya : “Ditimbang-timbang masih terasa ringan” pesan dari tafsiran tersebut : Satu satunya yang punya wewenang untuk “Menimbang dan menyatakan berat atau ringan” hanya Tuhan ! Jadi yang terlibat di kasus ini, Pengacara dan Kepolisian harus mencari “APA” yang benar dan bukan “Siapa” yang benar, Salam

 

doni wj

Sampai kalimat ke empat, saya sepakat (asumsi kalimat dibatasi titik). Tapi di kalimat ke lima, “Penembaknya jelas”. Saya belum bisa sepakat. Karena perkembangan kasusnya tidak seperti keterangan resminya. Kalau disebut Bharade E adalah penembaknya. Apakah Bharade E sudah ditahan? Atau minimal sudah dimintai keterangan? Sudah dibikin BAP nya? Lalu di mana keberadaannya? Yang menembak Bharada E. Yang dinonaktifkan Irjen FS, Brigjen HK, dan Kombes BHS. Ada ketidaknyambungan logika sebab-akibat di sini. Belum lagi kalau sudah masuk tahap analisa. Bukan sekedar fakta. Bagaimana pistol Glock 17 bisa berada di tangan Bharada E? Kalau itu yang dibawa dinas sehari-hari, sudah terjadi pelanggaran. Menurut keterangan Disway.id, Glock 17 itu digunakan untuk level AKBP. Kalau yang dimaksudkan: logikanya, tempat jelas, pelaku-korban meninggal jelas, korban pelecehan jelas, pelaku tembak menembak jelas, motif jelas, alat bukti jelas, maka kasus harusnya selesai. Fakta akibatnya, orang-orang yang dinonaktifkan atau ditahan tidak mencerminkan itu, Bah

 

 

Jimmy Marta

Penuh curiga penuh prasangka, itulah yg ada ditengah masyarakat menyikapi keterangan pihak polisi. Itu juga karena ada info yg disampaikan pihak keluarga yosua dan pengacaranya. Bagi penyidik atau penyelidik curiga itu adalah ‘jiwa’ nya. Malah terus diasah. Sering jadi pijakan awal untuk menyelidik. Banyak pelaku kasus pidana bisa diungkap polisi diawali rasa curiga. Tentu ada ilmunya pd polisi untuk memproses rasa curiga itu. Lantas jika ada pihak yg mencurigai proses polisi pd kasus duren tiga itu, tentu juga ada dasarnya. Ada data fakta yg berkembang. Pun masyarakat punya opini itu juga karena ada berita dan logika nya. Bgmn mengatasi saling mencurigai itu..? Ungkap kebenaran. Hanya itu.

 

Johannes Kitono

Sepak bola adalah permainan yang banyak penggemarnya didunia terlebih lebih di Indonesia. Misalnya, kalau Persebaya main di Jakarta boneknya konvoi naik bus atau KA berbondong bondong menuju ibukota. Memang peraturan sepakbola sangat sederhana. Untuk menang, cukup masukkan saja bola ke gawang lawan. Boleh dari seluruh badan dari kaki sampai kepala kecuali dengan tangan. Nah, ketika menonton pertandingan baik langsung dilapangan maupun via TV. Penonton suka gemes, penasaran dan terkadang marah marah. Kok begitu saja tidak bisa goal, terlebih lebih tendangan saat penalti. Umumnya penonton apalagi yang waktu kecil atau mudanya pernah bermain sepakbola “merasa bisa” dan gampang mainnya. Pada hal kalau disuruh ikut main dan turun kelapangan mungkin bisa mati berdiri. Dengan adanya kasus ” Polisi tembak mati polisi dirumah jendral polisi” yang belum terungkap, mass media dan medsospun jadi ramai. Penuh dengan berita, baik single atau multi image yang mencoba menggiring opini ke pembaca. Seperti penonton sepakbola, semuanya merasa bisa main, pendapat, strategi dan investigasi merekalah yang paling mendekati kebenaran. Seyogyanya, biarkanlah polisi melakukan Scientific Crime Incestigation. Jangan di campur adukkan dengan Jelangkung atau News Crime Investigation yang tentu akan semakin membingungkan.

 

Mirza Mirwan

Yang sampai sekarang membuat saya tak kunjung paham adalah jumlah ajudan perwira tinggi Polri. Irjen Ferdi Sambo, misalnya, semasih aktif sebagai Kadiv Propam terlihat berfoto bersama 8 ajudan. Konon malah jumlah seluruhnya 13 orang. Itu baru jenderal bintang dua. Kalau, misalnya, yang bintang tiga mungkin lebih banyak lagi. Apalagi yang bintang empat, Kapolri. Lah, kalau demikian halnya, berapa ratus polisi — di Mabes Polri saja — yang tugasnya hanya menjadi ajudan? Yang tidak masuk nalar saya juga ini: lebih tinggi mana sih hirarki antara ajudan yang mengawal jenderal dan ajudan yang ditugaskan menjadi isteri jenderal? Menurut logika awam saya, tentu saja lebih tinggi ajudan yang mengawal jenderal. Lah, mengapa dalam kasus Irjen Ferdi Sambo kok seorang bharada (tamtama dengan tanda pangkat satu balok merah) menjadi pengawal sang jenderal, sementara seorang brigadir (bintara dengan tanda pangkat tiga mata panah berwarna perak) hanya menjadi sopir isteri jenderal? Bukankah itu terbalik? Ataukah para ajudan itu mau ditugaskan sebagai apa, suka-suka sang jendera? Menurut logika awam saya, harusnya ada aturan baku dan tertulis. Sayangnya, seorang AKP (kawan SMA si Sulung) yang saya tanya bilang tidak tahu. “Saya juga tidak paham, Pak,” jawabnya.

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.