Rachmat Irianto, Wajah Manusiawi Persebaya Juara

Rachmat Irianto
Rachmat Irianto/Foto: Dok Persebaya
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Malam ketika Persebaya Surabaya akhirnya mengangkat trofi Piala Presiden 2026, seharusnya menjadi panggung bagi seluruh pemain untuk meluapkan kebahagiaan.

Setelah melewati pertandingan panjang hingga harus ditentukan melalui adu penalti melawan Persib Bandung, Bajul Ijo akhirnya berdiri sebagai juara.

Tawa pecah. Trofi diangkat tinggi-tinggi. Para pemain dan staf pelatih larut dalam euforia yang telah lama dinantikan masyarakat Surabaya.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Kebut Perbaikan Jalan, Warga Diminta Ikut Menjaga agar Tak Cepat Rusak193 Warga Tasikmalaya Terima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, Anggaran Capai Rp3,86 Miliar

Tetapi sebelum ikut merasakan pesta kemenangan, Rachmat Irianto justru menunjukkan sisi lain dari seorang pesepak bola.

Di tengah lapangan, ketika sejumlah pemain Persib masih larut dalam kekecewaan, Rian -sapaan akrab Rachmat Irianto- menghampiri penjaga gawang Maung Bandung, M. Fitrah.

Fitrah tampak menangis. Ia gagal menjadi penyelamat Persib dalam drama adu penalti yang akhirnya mengantarkan Persebaya menjadi juara. Rian kemudian menghampiri mantan rekannya tersebut.

Tidak ada sorotan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tidak ada rivalitas yang terlihat di antara keduanya. Rian justru tampak berusaha menenangkan Fitrah yang masih tenggelam dalam kesedihan.

Momen singkat itu mungkin luput dari gegap gempita pesta juara Persebaya. Namun, justru di sana terlihat sisi lain Rachmat Irianto.

Ia tahu bagaimana rasanya berada di sisi yang kalah. Ia juga tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari Persib.

Selama dua musim, Rian pernah mengenakan seragam Maung Bandung. Ia berjuang bersama klub kebanggaan Bobotoh tersebut, merasakan kemenangan, menjalani pertandingan penuh tekanan, hingga ikut menjadi bagian dari tim yang mengantarkan Persib meraih dua gelar.

Baca Juga:Korban Kebakaran Sodonghilir Mulai Terima Bantuan Darurat, Delapan Rumah Rusak BeratGolkar Cianjur Dukung Pemkab Bangun Infrastruktur Merata

Maka ketika malam itu takdir mempertemukannya dengan mantan klub di partai puncak, Rian tidak menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk melupakan masa lalu. Sebaliknya, ia menunjukkan rasa hormat.

Setelah memastikan mantan rekannya sedikit lebih tenang, Rian kemudian kembali bersama rekan-rekannya di Persebaya.

Namun ketika pesta juara benar-benar dimulai, Rian kembali memperlihatkan sikap yang berbeda. Ia memilih menepi.

Ketika pemain lain mengangkat trofi tinggi-tinggi, Rian terlihat berada sedikit di luar pusat perayaan. Ia tetap tersenyum, tetap menyaksikan kebahagiaan rekan-rekannya, tetapi tidak terlihat larut dalam selebrasi yang berlebihan.

0 Komentar