Puting Jantan

Oleh Dahlan Iskan

SETELAH dua tahun akrab, baru kemarin dulu saya bertemu orangnya: drh Indro Cahyono. Ia muncul di rumah saya. Habis Magrib. Bersama istrinya. Saya juga baru tiba dari Samarinda. Istri ditinggal di sana.

Polda Jatim mengundang ahli virus itu ke Lamongan. Yang bersama Harian Disway mengadakan acara ini: Lokakarya dan Simulasi Penyembuhan Sapi. Yakni sapi yang terkena penyakit mulut dan kuku (PMK).

Ia datang ke Surabaya naik kereta. Mengundang drh Indro ternyata tidak harus menyediakan tiket pesawat. Hanya ada syarat khusus: harus juga mengundang istrinya.

Meski sudah punya anak tiga orang, pasangan ini masih seperti pacaran. Mereka satu angkatan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Satu kelas. Indro orang Semarang, sang istri priyantun Ngayogyokarto.

Pagi-pagi kemarin kami ke Lamongan. Acara itu dilakukan di pendapa kabupaten. Bupati Dr Yuhronul Efendi MBA hadir. Kepalanya gundul –pertanda baru pulang dari naik haji. Saya menjadi moderatornya.

Anda sudah tahu apa yang dipaparkan drh Indro di situ. Sudah hafal. Sudah lima kali saya menuliskannya di Disway. Tapi peserta masih sangat antusias. Pak bupati ikut dialog sampai selesai. Lamongan adalah kabupaten pertama yang mengakui secara terbuka: bahwa virus PMK sudah masuk Indonesia.

Dari acara tersebut terlihat ternyata masih begitu banyak yang salah praktik. Banyak peternak yang menyembuhkan PMK dengan berbagai macam antiseptik. Yang sama sekali salah. Pengalaman selama Covid rupanya membentuk pola berpikir antiseptik segala-galanya. Padahal yang diperlukan untuk PMK ini cairan ber-pH rendah.

Hebatnya, bahkan ada yang menangani PMK pakai formalin. “Mungkin saja virusnya bisa mati. Tapi bakteri tetap menyerang,” ujar Indro berkomentar.

Seorang ketua koperasi mengaku: dari 200 sapi milik anggotanya hanya 8 yang mati. Itu bagus. Tapi ternyata yang 58 lagi harus dipotong dini. “Kukunya sudah lepas. Tidak bisa berdiri. Tidak mungkin bisa lebih gemuk lagi. Dipotong saja,” ujarnya.

Itu, kata Indro, akibat salah penanganan. Luka kaki akibat virus diperburuk oleh bakteri. Akhirnya membusuk. Kukunya lepas. Padahal virusnya sudah negatif. Letak kaki sapi yang di bawah membuat mudah dihinggapi segala macam bakteri yang ada di kandang. Buktinya luka yang di mulut tidak membuat mulut busuk dan gigi lepas.

Indro menyayangkan terjadinya panik-jual sapi. Itu sangat merugikan peternak. “Sapi seharga Rp 25 juta dijual di bawah Rp 5 juta,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Peternakan Jatim Aftabuddin juga mengungkapkan itu. Anak Medan lulusan Fakultas Peternakan Universitas Syiah Kuala Aceh itu jadi orang Jatim sejak muda. Sejak menjadi atlet olahraga anggar Jatim ketika provinsi itu jadi tuan rumah PON.

Yang paling disayangkan, penjualan itu biasanya dilakukan pada hari ke-6 setelah sapinya terkena PMK. Yakni ketika sapi itu sudah tidak bisa berdiri dan tidak bisa makan.

“Padahal tunggu dua hari lagi sapinya sembuh,” ujar Indro. Tentu kalau sapi itu tetap diberi makan.

Itulah sebabnya Indro menciptakan bubur sapi. Juga menciptakan salep untuk kaki. Agar sapi tetap dapat asupan vitamin dan gizi. Juga agar luka di kaki bisa sembuh –kuku pun tidak copot. Salep itu juga bisa untuk mulut. Tanpa membahayakan sapinya.

Ada keluhan: cara memaksa sapi tetap makan itu ternyata membuat sapinya kembung. Lalu mati. Indro langsung menjawab: itu karena makanannya tidak dilembutkan. Sistem pencernaan sapi tidak sama dengan manusia. Perut manusia bisa mencerna makanan apa saja. Asam di lambung perut manusia cukup kuat untuk mencerna yang aneh-aneh. Bahkan bisa ”mencerna” aspal dan Jiwasraya.

Asam di lambung perut sapi tidak cukup kuat. Itulah sebabnya sapi disebut binatang memamah biak. Makanan kasar yang masuk perut selalu harus dikembalikan lagi ke mulut. Dikunyah-kunyah lagi. Agar tidak kembung.

“Kembung bisa membunuh sapi lebih cepat dari virus PMK,” ujar Indro. “Satu hari kembung sapi bisa mati,” tambahnya. Kalau sudah kembung seperti itu tidak ada jalan lain. Perut sapi harus ditusuk secara benar. Agar anginnya keluar.

Indro menegaskan lagi: virus PMK tidak membunuh sapi dewasa. Yang mati karena virus umumnya sapi yang berumur kurang 1 bulan. Itu karena belum mampu menumbuhkan sistem kekebalan. Sapi dewasa yang terkena PMK umumnya mati karena tidak bisa makan, kembung dan dipotong lehernya –tidak perlu didor lima kali.

Ada juga keluhan unik: setelah seminggu diberi makan bubur dan sembuh, sapinya tidak mau lagi makan rumput. Indro menyarankan: pada hari kelima buburnya harus mulai dicampuri rumput. Yakni rumput yang sudah dicacah lembut. Hari keenam campuran rumputnya ditambah.

“Manusia pun begitu,” katanya. “Dulunya makan tempe. Lalu mampu makan daging rendang tiap hari. Setelah itu tidak mau lagi makan tempe,” guraunya.

Selesai acara dialog, peserta diajak ke halaman pendapa. Di situ seekor sapi besar disiapkan. Indro menyimulasikan cara memberikan salep di kaki dan mulut sapi. Juga dipraktikkan cara mencuci kuku sapi. Yakni dengan cairan yang pH-nya rendah: pH 5. Tidak hanya virus, bakteri pun mati. Itu harus dilakukan sehari tiga kali.

Virus PMK itu tidak menyerang paru-paru sapi. Yang diserang adalah jantung. Tapi jantung tidak perlu dibersihkan. Maka hanya tiga bagian yang perlu dibersihkan dan disalep: kaki, mulut, dan puting susunya.

Peserta pun minta agar Indro memeragakan pencucian puting susu sapi itu. Ia menuju lokasi yang biasanya ada susu di situ. Indro pun tertawa ngakak. “Sapi ini jantan. Mana ada putingnya,” katanya. (Dahlan Iskan)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul 10.58

thamrindahlan

Drama sudah sampai 16 babak. Akan kah mencapai angka 40. Kesempurnaan segala sesuatu di muka bumi ini pada titik ajaib 40.. Ya sabar adalah sikap terbaik. Sabar menunggu penuntasan perkara mudah dibuat sulit. Taruhan wibawa intitusi Polri membersihkan diri dari tabiat hedoisme oknum anggota . Yes 40 hari pembuktian otopsi dan kesaksian para tersangka serta barang bukti di pengadilan dunia. Era Jahilliah “kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah” seharusnya sudah lewat dengan adanya transparansi dan akuntansi. Kini masuk era ” kalau bisa dipermudah kenapa dipersulir” sesuai kaidah Scientific Crime identification.yang selalu di dengung dengungkan penyidik. Salamsalaman

 

Udin Salemo

Bagi saya tulisan berseri tentang kematian Brigadir J ini lebih berguna daripada tulisan berseri penipuan 2 T. Tulisan Abah Dis memberikan perspektif yang berbeda. Pengalaman seorang jurnalis senior memang bukan kaleng-kaleng. Yang kaleng-kaleng itu yang selalu memberikan penilaian negatif atas tulisan Abah Dis. Padahal sipengeritik gak punya kemampuan untuk membuat tulisan tandingan. Sehat selalu untuk anda semuanya.

Muin TV

Masalah di kasus ini cuma 1. Yang terbunuh polisi. Yang membunuh polisi. Lokasi pembunuhan di rumah polisi, Yang menangkap polisi, yang memeriksa polisi. Susah jadinya. Berbeda misalnya : yang dibunuh rakyat biasa. Yang membunuh rakyat biasa. Lokasinya, di rumah rakyat biasa. Maka, dalam jangka waktu tidak lebih dari 24 jam, polisi sudah bisa menangkap pelaku dan mengungkapkan motif dibalik pembunuhan itu. Itulah wajah hukum yang berlaku di Indonesia saat ini. Bukan berdasarkan “KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDNESIA.” Tapi, berdasarkan “KEPENTINGAN SIAPA YANG HARUS DILAYANI.” Jadi kesimpullannya, Semua orang sama di mata hukum. Tapi, tidak sama di mata penegak hukum.

 

Muin TV

Di sebuah vidio, salah satu crazy rich Surabaya. Tung Desem Waringin mengatakan : “banyak orang kebanyakan GAYA. Padahal, GAYA itu berbanding lurus dengan TEKANAN. Itu hukum FISIKA, hukum alam ciptaan Tuhan. Kalau hidup anda kebanyakan TEKANAN, berarti hidup anda kebanyakan GAYA. Kalau masa tua anda kebanyakan TEKANAN, berarti masa muda anda kebanyakan GAYA.”Bisakah GAYA tanpa TEKANAN? Bisa. Caranya: pasif income anda segede Gajah, GAYA anda segede Kerbau. Maka anda cerdas secara keuangan.” Jadi pertanyaannya: GAYA apa yang sudah dilakukan Brigadir J, sehingga menimbulkan begitu besar TEKANANnya? Itu aja sih menurut saya. Kalau itu bisa diungkap dengan jujur dan terbuka, 1 minggu selesai kasus ini. Toh, udah ada yang dinonaktifkan, apalagi?

 

Lukman bin Saleh

Tp bisa jd “sandar d pundak” itu jadi pemicu ancaman sejak bulan Juni. Atau yg bersandar lain lagi. Bukan Ny. Sambo tp “Ny. Muda.” Yg mengakibatkan terbakarnya api cemburu. Tp entahlah. Kita tunggu hasil penyidikan. Tp sulit membayangkan kasus ini tdk berkaitan dg asmara. Krn hanya cinta yg bisa sangat mudah membuat org berbuat gila…

 

Mirza Mirwan

Tentang peringatan Mabes Polri agar Kuasa Hukum Brigadir J fokus pada pokok perkara dan tidak membuat statemen yang melebar ke mana-mana, menurut saya, rasanya kok berlebihan. Sepertinya polisi di mabes hanya terpaku pada pasal 16 UU Advokat yang berbunyi: “Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk KEPENTINGAN PEMBELAAN KLIEN DALAM SIDANG PENGADILAN” (hurup kapital dari saya). Artinya, menurut polisi yang memberi peringatan itu, silahkan ngomong apa saja nanti dalam sidang di pengadilan. Mungkin sang polisi lupa, atau belum tahu, bahwa bahwa lewat “judicial review” pasal 16 UU Advokat itu, MK telah memperluas hak imunitas advokat, bukan hanya dalam sidang pengadilan tetapi juga di luar sidang, melalui Keputusan MK Nomor 26/PUU-XI/2013. Dan lagi, apapun yang dikatakan Kuasa Hukum Keluarga Brigjen J, semuanya berdasarkan bukti awal yang dipegangnya. Soal nanti terbukti atau tidaknya, biar pengadilan yang memutuskan. Tentang otopsi ulang Rabu lusa, di RS Sungai Bahar, saya yakin lebih obyektif. Ada 7 orang dokter forensik dari luar Polri yang akan ikut terlibat.

 

yoming AFuadi

Baru saja terperhatikan, diantara sekian banyak iklan yang menjejali artikel/ tulisan di DIsWay ini, ternyata ada perbedaan antara artikel/ berita umum dengan artikelnya Abah. Kalau artikel umum setiap alinea, maksimal 4 baris, diselipi iklan dan satu judul berita dipecah2 jadi beberapa halaman. Sedang artikelnya Abah agak lega selipan iklannya, minimal setiap 3 alinea baru ada selingan iklannya, dan dikemas jadi satu halaman saja, jadi tidak terlalu merepotkan harus meng-klik iklannya untuk membaca tulisan berikutnya.

 

Gianto Kwee

Di dunia pendidikan Nilai 55 bisa di “Katrol” Jadi 60 agar bisa Naik kelas or Lulus, agar tidak jadi “Juara Bertahan” Di kehidupan nyata harus dapat Minimal 99.9 agar bisa lulus ! Bung Pry nilai akhir 45 sangat jauuuuh dari bagus dan keputusannya “Drop-out” !

 

Pryadi Satriana

Nilai ‘tulisan’: 50. Alasan: Fokus tulisan tidak jelas. Banyaknya detil yg tidak perlu semakin mengaburkan maksud tulisan. Malah mengesankan sekadar cari sensasi. Nilai ‘isi’: 40. Alasan: Tidak konsisten. Sebelumnya ‘terpana’ dengan “Single Image”, sekarang ‘menggugurkan’ pandangan semula. Juga tidak objektif, hanya “melihat” dari sisi kuasa hukum korban. Banyak ‘noise’ dalam tulisan. Terlalu banyak spekulasi. Seharusnya ‘covering both sides’ supaya berimbang dan disertai analisis. Tidak ‘garing’. Nilai akhir: 45 (E). TIDAK LULUS. Silakan berusaha memperbaiki dalam tulisan-tulisan berikutnya dengan memperhatikan catatan-catatan di atas. Terima kasih. Salam.

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.