Hujan Sampai Akhir Tahun, Imbas La Nina dan Musim Kemarau Basah

Hujan Sampai Akhir Tahun, Imbas La Nina dan Musim Kemarau Basah
PANTAU: Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Yan Firdaus memperlihatkan pantaun citra satelit di ruang kerjanya, kantor BMKG Bandung, Kota Bandung, Senin (6/6) siang. (Nizar/Jabar Ekspres.
0 Komentar

“Bukan berarti hujannya (turun) banyak seperti musim hujan, tetapi kondisi curah hujannya di atas rata-rata musim kemarau biasanya. Kenaikan jadi bervariasi,” tambahnya.

“Padahal kalau kita lihat, kini angin yang aktif adalah monsun Australia atau monsun Timur. Angin yang bertiup dari Australia menuju Asia. Sehingga ini sudah masuk musim kemarau. Karena musim kemarau ditandai dengan aktifnya monsun Australia di wilayah Indonesia bagian Selatan,” paparnya.

Dia pun mengimbau, masyarakat perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi cuaca musim kemarau basah tersebut. Misalnya, menjaga imunitas tubuh supaya badan tetap fit.

Baca Juga:DKP3 Kota Depok Catat 45 Ekor Ternak Terjangkit PMKKhusus Pelajar, Tiket Candi Borobudur Akan Murah dengan Persyaratan Tertentu

“Salah satu ciri kemarau itu, biasanya pagi-pagi dingin. Bandung biasanya 19 derajat, kurang lebih. Lalu (kini) akan diperburuk dengan kondisi hujan yang masih aktif,” imbau Yan.

“Masyarakat diharapkan selalu bisa menjaga kondisi badan dan kesehatan. Sehingga imunitas tubuh terjaga. Bisa dengan cara istirahat yang cukup, dan jangan memaksakan (beraktivitas) apabila tengah turun hujan,” pungkasnya. (zar/wan)

0 Komentar