Kebutaan Bisa Mengancam Mata Minus, Begini Penjelasannya

Ilustrasi mata. (Pixabay)
Ilustrasi mata. (Pixabay)
0 Komentar

JAKARTA – Kondisi mata minus ternyata lebih rentan terkena Ablasio Retina Regmatogen atau Rhegmatogenous Retinal Detachment/RRD.

Ablasio Retina Regmatogen atau Rhegmatogenous Retinal Detachment/RRD merupakan kondisi lepasnya lapisan retina yang diakibatkan oleh lubang atau robekan pada retina yang menyebabkan kebutaan. Hal itu dikatakan oleh Ketua Vitreo-Retina Service dan Dokter Spesialis Mata Subspesialis Vitreo-Retina JEC Eye Hospitals & Clinics DR.Dr. Elvioza, SpM(K).

“Risikonya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Meski demikian, penderita miopia berusia muda ternyata memiliki risiko yang lebih tinggi terserang RRD,” kata dr. Elvioza.

Baca Juga:Menu Sarapan Nikmat dan Mudah Berbahan Dasar Roti TawarBAB Berdarah Bisa Jadi Tanda Dua Penyakit Ini, Kenali Dulu Perbedaannya

Retina adalah jaringan saraf di bagian belakang bola mata, berperan sangat penting dalam proses melihat.

Retina memiliki fungsi menerima dan mengolah cahaya yang masuk ke mata kemudian meneruskannya ke otak untuk diterjemahkan.

“Oleh karena itu, gangguan pada retina harus ditanggapi serius karena dapat berpotensi mengganggu penglihatan secara permanen alias kebutaan,” ujarnya

Meski belum ada data pendukung secara nasional, kejadian gangguan fungsi pada retina di tengah masyarakat perlu menjadi kekhawatiran bersama karena menjadi ancaman kebutaan yang perlu diwaspadai.

Data jumlah operasi terkait gangguan retina di JEC Eye Hospitals & Clinics sepanjang 3 tahun terakhir bahkan mencapai 10 ribu tindakan.

Beberapa jenis gangguan retina yang kerap ditemukan di Indonesia, antara lain Retinopathy Diabetic, Age-related Macular Degeneration (AMD) Degenerasi Makula, Ablasio Retina dan Retinoblastoma.

Dalam penelitian ‘Perbandingan Proses Penuaan Cairan Vitreus pada Pasien Ablasio Retina Regmatogen Usia Muda dengan Miopia Aksial dan Pasien Ablasio Retina Usia Lanjut Tanpa Miopia’ disebutkan diagnostik retina yang meliputi wide-field fundus photography, swept source, spectral domain optical coherence tomography (OCT), OCT angiografi, ultrasonografi mata, Fundus Angiography (FA), ICG, dan Retinometri.

Baca Juga:Lebih Baik Sedekah atau Membayar Hutang? Berikut JawabannyaManfaat Minum Air Putih di Pagi Hari, Menyehatkan!

Dengan modalitas pemeriksaan yang lengkap dan mutakhir tersebut, diagnosis kondisi retina akan menjadi lebih akurat dan dokter dapat menentukan opsi pengobatan yang tepat.

Menurut dr. Elvioza mengatakan, ablasi retina memang rentan terjadi pada orang usia di atas 50 tahun. Ditambah pada usia tersebut juga banyak orang yang juga alami miopi, sehingga memiliki dua faktor risiko.

0 Komentar