Allah Swt. berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS, al-Ahzaab, 33:23).
Jujur artinya apa yang kita katakan sesuai dengan apa yang ada dalam hati kita. Tentunya, hal itu harus sesuai dengan apa yang telah Allah Swt. tetapkan.
Kejujuran adalah pilar utama keimanan. Kejujuran adalah kesempurnaan kemuliaan, saudara keadilan, roh pembicaraan, lisan kebenaran, sebaik-baik ucapan, hiasan perkataan, sebenar-benarnya pembicaraan, kebaikan segala sesuatu.
Baca Juga:Covid-19 Varian Delta Merebak, DPR Sarankan Penambahan RS DaruratBahas Sinetron Ikatan Cinta, Mahfud MD Dikritik Tidak Peka
Pada kejujuran terdapat kelezatan rohani yang tidak akan dirasakan seorang pendusta. Sementara dusta lawan dari jujur -sangat tercela, baik besar maupun kecil.
4. Berlaku adil.
Yang dimaksud dengan adil ialah menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan cara yang sama dan serupa, tidak berat sebelah. Lawannya ialah zalim.
Agama Islam meletakkan soal menegakkan keadilan itu dan menjauhi kezaliman sebagai satu sikap hidup yang esensial.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil, yaitu yang bersikap adil dalam mengadili dan kepada keluarga maupun rakyatnya, (di hari kiamat kelak) berada di dalam tempat dari cahaya. Dia juga ditempatkan di sisi kanan Allah, yang kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim).
Keadilan itu haruslah diterapkan dalam segala bidang kehidupan tanpa memandang orangnya. Bahkan juga harus berlaku adil terhadap diri sendiri. Abu Bakar Siddiq menegaskan, bahwa orang yang lemah harus dibela dan dilindungi; orang-orang yang kuat tidak boleh berlaku kejam dan sewenang-wenang.
Orang yang adil adalah orang yang meletakkan sesuatu pada tempatnya. Atau, dengan kata lain, memberikan kepada yang berhak hak-hak mereka. Berbuat semaksimal mungkin atas dasar nilai-nilai keadilan pada semua aspek kehidupan kita. Dan awasilah diri kita di dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Kemurkaan Allah bertambah terhadap orang yang berbuat zalim terhadap seseorang yang tidak mempunyai penolong selain Allah.” (HR. ad-Dailami melalui Ali k.w.).
Baca Juga:Dosis Baru Segera Datang, Presiden Arahkan Segera Pakai Vaksin Covid-19 yang Masih AdaWaduh! Oknum Ini Dapat Untung Rp300 Juta dari Hasil Jual Tabung Oksigen Diatas HET
Dalam hadits lain Nabi Saw. menegaskan, “Takutlah kalian terhadap doa orang yang teraniaya karena doa orang teraniaya itu dikabulkan Allah Swt.”
