4 Akhlak Kepemimpinan yang Harus Dimiliki Para Pemimpin

Drs. H Karsidi Diningrat, M.Ag.
Drs.H. Karsidi Diningrat M.Ag
0 Komentar

Dari pidato kenegaraan Khalifah Abu Bakar Shiddiq itu dapat disimpulkan ada beberapa macam akhlak kepemimpinan yang perlu dicontoh oleh setiap orang yang memegang pimpinan yang bertanggungjawab, baik pemimpin lingkungan maupun pemimpin masyarakat, lebih-lebih bagi pemimpin Negara. Di antara macam akhlak yaitu:

1. Rendah hati atau tawadhu.

Kesombongan merupakan salah satu sifat yang paling dibenci Islam sebaliknya sikap rendah hati adalah salah satu yang paling disukai. Islam mengharamkan seorang muslim takabur dan memerintahkannya untuk tawadhu. Karena tawadhu adalah sifat terpuji secara syariat bagi pemiliknya.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Allah memerintahkan aku agar bertawadhu, agar jangan sampai ada salah seorang yang menyombongkan diri pada orang lain dan jangan sampai ada yang congkak pada orang lain.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Baca Juga:Covid-19 Varian Delta Merebak, DPR Sarankan Penambahan RS DaruratBahas Sinetron Ikatan Cinta, Mahfud MD Dikritik Tidak Peka

Banyak pemimpin-pemimpin yang pada mulanya dekat kepada masyarakat, turun ke bawah, integrasi kepada kaum yang lemah. Tapi, begitu dia sudah mempunyai kedudukan, timbullah apa yang disebutkan dalam peribahasa: kalau hari sudah panas, lupa kacang pada kulitnya.

Sikap sombong, congkak, tinggi hati sudah nampak kelihatan. Bukan hanya sekedar itu, tapi kadang-kadang dia sampai hati pula menginjak-injak tengkuk orang yang telah berjasa menaikkannya, “mengorbitkannya”.

Abu Bakar Siddik menyatakan bahwa pada hakekatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda daripada rakyat biasa. Bukan karena ia orang istimewa. Tapi, hanya sekedar orang yang didahulukan selangkah, yang mendapat kepercayaan dan dukungan yang banyak.

Di atas pundaknya terpikul satu tanggung jawab yang besar dan berat, baik terhadap umat dan masyarakat pada umumnya, lebih-lebih lagi terhadap Allah Swt. Sifat rendah hati itu bukanlah merendahkan kedudukan seorang pemimpin, malah sebaliknya mengangkat martabatnya dalam pandangan orang banyak dan masyarakat.

2. Terbuka menerima koreksi.

Setiap pemimpin memerlukan dukungan dan partisipasi rakyat banyak. Bagaimanapun kepemimpinannya, ia tak bisa melaksanakan tugas-tugasnya tanpa partisipasi orang banyak. Jika orang banyak bersifat apatis, tak mau tahu, masa bodoh terhadap segala anjuran dan tindakannya, maka hal yang demikian merupakan tantangan yang berat.

0 Komentar