Janjikan Gaji Rp 1 Juta untuk RW

BANDUNG – Bakal Calon Wali Kota Bandung Nurul Ari­fin mengaku akan mengalo­kasikan anggaran untuk meng­gaji pengurus RT/RW dan Posyandu. Itu menjadi salah satu program prioritas Nurul Arifin untuk menyejahterakan pengurus RW di daerah.

”Insentif RW, RT, dan kader Posyandu ini menjadi salah satu program prioritas yang kami usung,” kata Nurul di hadapan ratusan kader De­mokrat dalam acara Silatu­rahmi dan Konsolidasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat di Gedung Serba Guna, Jalan Parakaan Saat, Bandung, beberapa waktu lalu.

Kata Nurul, Ketua RT/ RW dan kader Posyandu layak mendapatkan honor lebih besar dari yang selama ini. Sebab mereka memiliki beban kerja yang terbilang berat, bahkan bisa 24 jam langsung berhadapan dengan masyarakat.

Nurul menjelaskan, jika dirinya terpilih memimpin Kota Bandung, Ketua RW akan mendapatkan insentif Rp 1 juta per bulan, atau mening­kat Rp 700 ribu dari yang saat ini mereka terima Rp 300 ribu per bulan. Sedangkan Ketua RT akan menerima Rp 300 ribu dan kader Posyandu akan diberikan Rp 1,5 juta per bulan, yang sebelumnya hanya Rp 500 ribu.

Dengan insentif yang dijan­jikannya, Nurul yang berpa­sangan dengan Chaerul Yaqin Hidayat (Rulli) dari Partai Demokrat, yakin melalui pos­tur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandung sekitar Rp 6,8 triliun per tahun, mampu menutupi insentif yang akan diberikan setiap bulannya.

”Kota Bandung ini angka pertumbuhan ekonominya tergolong tinggi, sekitar 7,7 persen dengan nilai APBD Rp 6,5-6,8 triliun yang 50 persen digunakan untuk belanja pegawai. Sebagai kepala daerah, kami memi­liki diskresi menyisihkan beberapa miliar untuk in­sentif tersebut,” urainya.

Sementara itu, selain yang sudah mantap mendukung Nurul dan Rulli sebagai pa­sangan calon (Paslon) dari partai golkar dan demokrat. Kedua paslon ini kemungkinan menambah amunisi dari PKB.

”Mudah-mudahan insya Allah kami bisa bersama. Sebab, kami terbuka sekali. Kami partai dengan konsep egalitarian. Kami berusaha merangkul semuanya,” tutur Nurul.

”Jangan ada merasa kalah, dan lain-lain, karena dalam politik kalah atau menang itu biasa. Ada saat di bawah dan di atas itu biasa. Sebab, poli­tik sesungguhnya hari ini dan ke depan adalah investasi,” sambung Nurul.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan