Ada memang televisi. Tapi tanpa disambung ke antena penangkap gelombang siaran. Hanya terkoneksi ke DVD player yang di sampingnya ditumpuki beberapa keping kaset nasyid serta tilawatil Quran.
Tapi, itu tak lantas berarti Abah Wid sudah sepenuhnya terputus dari dunia luar. Sesekali dia tetap berperan mendampingi Sirojudin, sang anak yang bakal ditunjuk menggantikan dirinya sebagai direktur akper. Masih tetap di bawah tarup itu pula dia sesekali menggelar rapat dengan sejumlah penggerak akper.
Latar belakang Abah Wid memang dunia kesehatan. Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu sempat menjabat kepala Bina Puskesmas Tingkat I Lampung.
Baca Juga:Rekapitulasi Suara Menjadi 35 HariTerduga Ikut Bantu Rakit Bom Buahbatu
Setelah pensiun, dengan bekal pengetahuan dan pengalaman, Abah Wid lantas mendirikan pondok keperawatan yang saat ini telah menjadi Yayasan Akper Baitul Hikmah. Meski belum resmi serah terima, saat ini sudah banyak perannya sebagai direktur yang dioper ke Sirojudin.
Dunia kesehatan pula yang dulu mempertemukan Abah Wid kali pertama dengan sang istri. Hamsi merupakan gurunya saat menempuh pendidikan di sekolah keperawatan. ”Jadi, memang usia istri saya sedikit di atas saya. Tapi tidak jauh. Hanya selisih empat tahun,” ujar Abah Wid.
Sejak awal pernikahan, Widodo sudah tahu riwayat penyakit asma Hamsi. Namun, kebahagiaan yang membumbui kehidupan mereka seakan sukses menjadi obat mujarab bagi sang istri. Sehingga sangat jarang penyakit itu muncul mengganggu kesehatan istrinya.
Bagi Widodo, Hamsi adalah perempuan yang cantik luar dalam. Sang istri juga yang turut membantunya meyakinkan sang mertua bahwa dirinya akan sukses dan bisa membahagiakan putri mereka.
”Dulu awal menjadi PNS gaji saya hanya Rp 3.900. Tapi, dia menerima saya apa adanya meski bisa dikatakan penghasilan dia saat itu jauh di atas saya,” ungkapnya.
Widodo juga mengenang bagaimana Hamsi mati-matian berjuang agar ibunda Widodo bisa turut pergi berhaji bersama mereka. Ketika itu Widodo dihadiahi berhaji gratis oleh salah seorang pejabat. Dia diperbolehkan mengajak sang istri.
Tapi, yang jadi beban pikirannya, ibunda tercinta belum sempat menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Padahal, secara finansial, saat itu Widodo tidak berlebihan.
