Alumni Unisba Tuntut Diplomasi Tegas atas Penculikan 9 WNI

AFTA Unisba
Keluarga Besar AFTA Unisba mendesak pemerintah Indonesia bertindak tegas menyusul dugaan penculikan sembilan WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Palestina.
0 Komentar

BANDUNG – Saat sebagian dunia memilih bungkam, suara tegas justru muncul dari Bandung. Keluarga Besar Alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung (AFTA Unisba) mendesak pemerintah Indonesia bertindak tegas menyusul dugaan penculikan sembilan Warga Negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Palestina.

Bagi para alumni, peristiwa ini bukan sekadar isu internasional biasa. Mereka melihatnya sebagai pukulan terhadap nilai kemanusiaan universal. “Mereka berangkat membawa bantuan, bukan senjata,” tegas pernyataan sikap AFTA Unisba yang dirilis Kamis (21/5/2026).

Dalam situasi Timur Tengah yang semakin memanas, AFTA Unisba menilai Indonesia harus hadir dengan sikap diplomasi yang lebih berani dan terukur. Mereka mendesak Presiden RI segera mengambil langkah luar biasa untuk memastikan keselamatan dan martabat kesembilan relawan tersebut, termasuk membawa kasus ini ke forum internasional.

Baca Juga:Gemilang! Wisuda Akbar Yayasan Assalaam, 10 Santri Hafal 30 Juz PDI Perjuangan Jabar Kembali Bantu Rp81,6 Juta untuk Bandung Zoo 

“Negara harus menggunakan seluruh kekuatan diplomatik yang dimiliki. Jangan biarkan warga kita menjadi korban di perairan internasional,” ujar Ketua AFTA Unisba, Zaki Zimmatillah Zulfikar.

Lebih lanjut, organisasi alumni ini mendorong DPR RI segera menggelar sidang darurat untuk memanggil Menteri Luar Negeri dan meminta penjelasan menyeluruh mengenai upaya penyelamatan para WNI.

Mereka juga menyerukan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk segera mengusut dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel terhadap relawan sipil.

Di tengah hiruk-pikuk media sosial, AFTA Unisba menekankan bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada unggahan dan slogan semata. Masyarakat diminta terus mengawal kasus ini hingga seluruh WNI kembali ke tanah air dengan selamat.

“Di balik perang, blokade, dan konflik politik yang rumit, kemanusiaan tetap harus menjadi yang utama,” tutup pernyataan tersebut. (bbs)

0 Komentar