Virus tokso tersebut tidak hanya menyerang organ mata, tapi ke seluruh badan. Menyerang kekebalan tubuh Adrian. ”Ada yang pilek sedikit, saya ketularan,” ucapnya.
Sayang, ketika datang untuk pemeriksaan menyeluruh tersebut, kondisi saraf-saraf mata Adrian sudah terlalu rusak. Kalau saja sejak awal terdiagnosis terkena virus tokso, pengobatan bisa dilakukan dengan minum obat antivirusnya.
Karena itulah, dokter pun melakukan treatment ”pemungkas”. Menyuntikkan obat langsung ke saraf mata. Meski, itu tidak menjamin akan pulih total.
Baca Juga:Tarif KA Ekonomi Bersubsidi Batal Naik14.402 Ruang Kelas SD Rusak Berat
Sepulang dari Singapura, kondisi mata Adrian lumayan membaik. Begitu pula fisiknya. Dengan bersemangat dia turut serta dalam tur ERK ke sembilan kota.
Namun, setelah kota ketujuh, Adrian kembali ngedrop. Dia masih memaksakan untuk bisa menyelesaikan manggung di dua kota terakhir.
Dampaknya, beberapa hari setelah pulang tur, Adrian terbangun tanpa cahaya. Gelap di mana-mana. ”Itu kali pertama saya merasakan tanpa penglihatan sama sekali,” ucapnya getir.
Sedih, terpukul, dan frustrasi. Bukan hanya fisiknya yang drop, mental pun terjun bebas. Kepala seperti ditarik-tarik, nyeri, terutama di sekitar mata. ”Saya nggak bisa naruh kepala di bantal karena sakit banget. Kalau sampai bisa tidur, itu karena saking capeknya merasakan sakit,” ungkap dia.
Adrian juga tak mampu menulis lagu. Gitar memang diletakkan di samping tempat tidur, menunggu untuk disentuh. Namun, Adrian tidak sanggup. ”Saya bed rest total. Rasanya sudah dekat (dengan ajal),” kenangnya dengan lirih.
Hari beranjak siang. Rindu masih asyik bermain dengan balonnya. Masih menggelayut manja. Adrian mengusap lembut rambut si upik jantung hatinya itu.
Kenangan Adrian seolah terbang ke masa-masa ketika mimpi-mimpinya terasa hancur karena penglihatan yang hilang itu. Sebab, musik dan ERK adalah hidupnya.
Baca Juga:Daerah Senang Dapat Kouta Haji Tambahan, Jangan Terbuai Janji CaloMelanjutkan Pendidikan Tidak Harus Sekolah Negeri
Dia pun kembali memeriksakan kondisinya di rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit pertama pada 2005 di Jakarta. Ternyata, dia mendapat diagnosis yang lagi-lagi berbeda. Yaitu, Behcet disease, penyakit yang melemahkan saraf dan paling sering menyerang mata.
Dipengaruhi faktor genetik yang kebanyakan diderita keturunan Arab dan Tionghoa. Memang, dari garis ibu, beberapa keturunan ke atas ada yang berdarah Tionghoa. Namun, tidak ada yang mengalami gangguan penglihatan seperti itu.
