Dia menerima panggilan tes dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Tanpa pikir panjang, Wayan langsung terbang ke Kuala Lumpur, menjalani tes, dan diterima. Sambil mengajar, dia juga melanjutkan studi doktoralnya.
Setelah lulus S-3, Wayan kembali melamar pekerjaan di tanah air. Namun, lagi-lagi tidak ada satu pun panggilan yang datang kepadanya. ”Tidak ada yang merespons lamaran saya. Saya tidak tahu, apakah karena tidak mampu membayar gaji saya atau sistem pendidikan Indonesia sudah bercampur aduk dengan permainan politik,” katanya.
Wayan mengaku kecewa dengan sistem pendidikan di Indonesia. Jika terus seperti ini, kata dia, Indonesia akan sulit maju. Banyak diaspora hebat dari Indonesia yang akhirnya memilih bekerja di luar negeri. Padahal, sebenarnya mereka punya idealisme untuk membangun negaranya sendiri.
Baca Juga:Putusan Hakim Tamparan Pada Kejaksaan AgungWaspadai Tabung Elpiji Abal-abal
”Mereka bekerja di negara asing seperti saya bukan semata-mata karena uang. Tetapi karena tidak mendapat kesempatan untuk mengabdi di tanah air sendiri,” tandas dia. (*/c5/ari/rie)
