Perubahan cuaca ekstrem itu bisa terjadi dalam hitungan jam, bahkan menit. Padahal, untuk menuju lokasi penelitian, diperlukan waktu yang lumayan lama dengan medan yang sangat berat. Selain superdingin, medannya bersalju tebal.
”Kami harus menggunakan helikopter untuk sampai di lokasi. Kami tidak bisa keluar base sesuka hati karena cuaca yang sering ekstrem. Belum lagi ada ancaman binatang buas di luar,” paparnya.
Namun, perjuangan di medan berat tersebut tidak sia-sia karena hasil penelitian yang diperoleh umumnya lebih signifikan jika dibandingkan dengan di lokasi lain. Wayan mencontohkan kemunculan aurora yang tidak bisa dilihat jika berada di khatulistiwa. Variasi medan magnet di Antartika juga kuat. Belum lagi kemunculan makhluk hidup baru untuk penelitian di bidang kedokteran.
Baca Juga:Putusan Hakim Tamparan Pada Kejaksaan AgungWaspadai Tabung Elpiji Abal-abal
”Struktur batuannya (di kutub) juga unik. Kekayaan alam seperti minyak, mineral, air, dan keanekaragaman hayati di sana banyak dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.”
Menurut alumnus Universitas Sanata Darma Jogjakarta itu, Kutub Selatan masih menyimpan banyak misteri yang belum bisa diungkap secara keilmuan. Tidak heran jika Antartika dijadikan objek penelitian oleh banyak peneliti di dunia. ”Antartika juga kerap dapat julukan laboratorium alamiah untuk kajian sains,” ucap dia.
”Dan yang pasti, Antartika adalah the mother of weather alias ibunya cuaca. Jenis dan bentuk cuaca apa saja terjadi di sini,” lanjutnya.
Hingga saat ini, Wayan telah melakukan enam kali penelitian di Antartika. Dia juga pernah melakukan tiga kali penelitian di Artik (Kutub Utara). Penelitian di dua kutub tersebut umumnya dilakukan pada musim panas. Di luar musim panas, cuaca Antartika dan Artik lebih tidak menentu lagi.
Fokus riset Wayan berkaitan dengan meteorologi angkasa (space meteorology). Dalam riset tersebut, dia menggunakan teknik GPS (global positioning system) untuk menurunkan sebuah parameter cuaca yang lebih sensitif untuk meneliti perubahan iklim. Parameter itu dinamakan precipitable water vapour (PWV). Yakni, sejenis uap air terpresipitasi.
Untuk perubahan iklim modern seperti yang sekarang terjadi, suhu dan kelembapan udara relatif sudah termasuk konvensional dan kurang sensitif dalam memberi bacaan atau tren secara global atau menyeluruh. Dua parameter itu mungkin sesuai jika melihat lingkup yang agak sempit atau regional. Parameter konvensional tersebut akan sulit diterapkan di kutub yang medannya sangat berbahaya.
