Wayan menyatakan, karena itulah, teknik GPS lebih mudah dan praktis diperkenalkan dalam penelitian yang dilakukannya. Parameter PWV memiliki sensitivitas yang melebihi sensitivitas suhu dalam aplikasi peramalan cuaca. Dalam parameter itu juga terdapat komponen aktivitas matahari atau fenomena angkasa ke dalam penurunan model tersebut.
”Karena itulah, saya kemudian menamakannya dengan istilah meteorologi angkasa. Saya peneliti pertama yang memperkenalkan istilah itu,” ungkap pria kelahiran Klungkung, Bali, 10 Agustus 1967, tersebut.
Selama menjadi peneliti di Malaysia, sudah banyak penelitian yang dikerjakan Wayan. Mulai riset cuaca angkasa, telekoneksi antara kutub dan khatulistiwa, telekoneksi matahari memengaruhi iklim bumi di Antartika, riset perubahan iklim fenomena El Nino dan La Nina di Semenanjung dan Sabah Malaysia, pembangunan satelit permodelan atmosfer, hingga riset gelombang panas.
Baca Juga:Putusan Hakim Tamparan Pada Kejaksaan AgungWaspadai Tabung Elpiji Abal-abal
Penelitian-penelitian itu dilakukan Wayan secara intens sejak dirinya menjadi dosen di Malaysia pada 2002. Sebelumnya, saat mengambil master di ITB, Wayan memang pernah melakukan penelitian soal iklim/cuaca, tapi tidak intens. Kini Wayan lebih banyak melakukan penelitian di bawah bendera Kerajaan Malaysia.
Meski menjadi peneliti di Malaysia, Wayan tetap bangga. Tidak berarti dia tidak nasionalis. Sebaliknya, dia justru mengaku sangat nasionalis. Wayan bangga karena berhasil menyingkirkan peneliti dari Malaysia sendiri untuk mendapatkan dana penelitian dari Kerajaan Malaysia.
Wayan mengungkapkan, dana hibah yang diberikan Kerajaan Malaysia melalui research grant untuk Program Antartika Kebangsaan Malaysia itu tidak dengan mudah dia dapatkan. Proyek bergengsi tersebut diperebutkan banyak peneliti di sana. Persaingan pun sangat ketat. Yang membanggakan, Wayan adalah warga negara asing di negara tersebut. ”Dan saya bisa mengalahkan para peneliti Malaysia itu,” ungkap dia.
Wayan mengamalkan ilmunya di Malaysia bukan karena dia enggan membagi ilmunya kepada para mahasiswa di tanah air. Wayan akhirnya berlabuh ke Malaysia karena tidak mendapat pekerjaan di Indonesia.
”Setelah lulus S-2 Fisika ITB pada 1999-2000, saya mengajukan puluhan lamaran untuk jadi dosen di PTN dan PTS. Tapi, tidak ada satu pun panggilan untuk saya,” ungkapnya.
Rasa kecewa pasti ada. Namun, Wayan tidak menyerah. Tidak diterima di negeri sendiri tidak berarti niatnya untuk mengamalkan ilmu hilang. Semangat justru datang ketika satu-satunya lamaran ke Malaysia mendapat jawaban.
