Dokter Pertama Papua yang Berbagi Pengalaman Kesehatan via Buku

Aloysius Giyai
LUSIA ARUMINGTYAS/JAWAPOS
BERAWAL DENDAM: Raymondus menjadi dokter pertama Asal Papua yang berhasil menulis buku dan dijadikan panduan bagi praktisi medis di Papua.
0 Komentar

”Karena itu, keinginan saya hanya satu, anak-anak Papua pada masa mendatang tidak mengalami sakit, apalagi meninggal seperti saudara-saudara saya,” tutur Alo.

Bagi dia, gebrakan menuju Papua sehat, bangkit, mandiri, dan sejahtera memerlukan dorongan dari lintas sektor. ”Papua itu ktitis. Ibarat orang Papua itu mati tiga, non-Papua mati satu,” jelasnya.

Dengan rasio tersebut, dia memprediksi, pada 2030 tanah kelahirannya tersebut sangat minim warga asli. Perbandingannya 1:3. Kekhawatiran terhadap badai kepunahan itu pula yang mendasari lahirnya buku keduanya.

Baca Juga:Anindya Kusuma Putri Berupaya Keras Pertahankan GelarSetnov Mundur di Menit Akhir

Buku kedua yang digarap selama setahun itu mencoba menawarkan perspektif baru dalam melihat kondisi kesehatan di Papua. Yakni secara sederhana, revolusioner, dan berkelanjutan. Menurut dia, dari atas kursi empuk kekuasaan, para elite perlu melihat bagaimana realitas yang terjadi di masyarakat.

Fokus utama dalam buku setebal 796 halaman itu terkait dengan program ibu dan anak, imunisasi, sanitasi lingkungan, serta penerapan STBM (sanitasi total berbasis masyarakat). Tujuannya, indeks pembangunan manusia di Papua bisa meningkat. Begitu juga angka harapan hidup di Papua. Dari saat ini 65,4 tahun menjadi 70 tahun pada 2018. Sedangkan untuk skala nasional, rata-rata angka harapan hidup sudah mencapai 72 tahun. ”Buku itu akan saya bagi gratis ke puskesmas, kepala kampung, sekolah, dan pelayan kesehatan,” katanya. (*/c11/ttg/rie)

0 Komentar