JABAR EKSPRES – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendorong peninggalan sejarah Sunda seperti Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dipahami melalui pendekatan akademik dan peradaban, bukan sekadar dipandang secara klenik.
Hal itu disampaikan Dedi saat menghadiri diskusi kecagarbudayaan bertajuk “Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran Batutulis, Kota Bogor, Kamis (14/5/2026).
“Kegiatan ini adalah kita ingin merubah cara pandang yang klenik menjadi cara pandang yang teknokratis. Sehingga ketika memahami benda-benda kepurbakalaan, maka kita harus melihat dari sudut peradaban,” ujar Dedi kepada wartawan di Museum Pajajaran Batutulis, Kota Bogor, Kamis (14/5).
Baca Juga:Wacana KDM Soal Jalan Provinsi Berbayar, Bupati Tasikmalaya Merespon BeginiPerang Terhadap Obat Keras, Satgas Bentukan Bupati Bogor Bongkar 45 Kasus dalam 1 Bulan
Menurutnya, peninggalan sejarah harus dipahami sebagai bukti bahwa leluhur Sunda telah memiliki kecerdasan dan kemajuan peradaban pada masanya.
Karena itu, masyarakat perlu memandang benda-benda kepurbakalaan melalui pendekatan akademik untuk memahami perkembangan peradaban dan pengetahuan yang dimiliki leluhur di masa lalu.
“Pada zaman itu peradaban sudah mengalami kepesatan cara berpikir dan cara bertindak, sehingga tahapan-tahapan peradaban harus kita lalui dan kita harus juga memahami bahwa kita memiliki leluhur yang sudah memiliki kecerdasan peradaban pada zamannya,” katanya.
Dedi menilai, pemahaman terhadap peninggalan sejarah tersebut juga perlu diperkuat melalui karya dan kajian akademik yang komprehensif agar dapat menjadi dasar pengetahuan sekaligus pijakan pembangunan pada masa kini maupun masa depan.
“Dan kemudian semuanya harus menjadi karya-karya akademik. Sehingga nanti kita punya buku-buku atau naskah-naskah akademik yang menjelaskan satu masalah demi satu masalah, satu peninggalan demi satu peninggalan untuk membangun dan menata masa depan,” ujarnya.
Salah satu yang didorong untuk memiliki kajian akademik komprehensif yakni Prasasti Batutulis.
Menurutnya, kajian tersebut perlu memuat berbagai aspek sejarah secara rinci, mulai dari proses pembuatan hingga makna tulisan yang tertera pada prasasti.
Baca Juga:Toko Kelontong hingga Konter Pulsa Jadi Kedok Peredaran Obat Keras di Kabupaten BogorPolres Bogor Ungkap 113 Kasus Narkoba, Amankan 155 Tersangka
“Batutulis nanti harus ada buku akademiknya yang memberikan kajian secara komprehensif dari mulai tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya,” katanya.
Selain Prasasti Batutulis, Dedi juga menyebut Mahkota Binokasih Sanghyang Pake sebagai peninggalan sejarah Sunda yang perlu dikaji secara akademik sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan sejarah dan identitas Sunda.
