JABAR EKSPRES – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti pengaturan fungsi lahan dan wilayah atau tata ruang di kawasan Batutulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, usai terjadinya longsor di Jalan Saleh Danasasmita atau Jalur Batutulis beberapa waktu lalu.
Menurut Dedi, kawasan yang dulunya menjadi bagian dari pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran Sunda itu semestinya dipertahankan sebagai kawasan hijau karena memiliki nilai sejarah serta terkait dengan kondisi alam dan karakter lingkungan setempat.
“Ketika ini misalnya dulu pusat Pajajarannya di sini, ya dimungkinkan dong nanti taman Batutulis yang hijau pohon, kenapa saja jadi longsor? Karena salah dalam penerapan tata ruangnya,” ujar Dedi saat berada di Museum Pajajaran Batutulis Bogor, Kamis (14/5/2026).
Baca Juga:31 Ribu Kendaraan Serbu Puncak Bogor Saat Long Weekend, Arus Kini Normal Dua ArahWacana KDM Soal Jalan Provinsi Berbayar, Bupati Tasikmalaya Merespon Begini
Ia menilai, perubahan fungsi kawasan hijau menjadi jalan menunjukkan pembangunan yang tidak memperhatikan, lanskap, kondisi alam, karakter wilayah setempat serta nilai sejarah kawasan tersebut.
Menurutnya, pembangunan di kawasan bersejarah seperti Batutulis ini harus tetap mempertimbangkan kondisi alam dan tata letak wilayah, karena kawasan tersebut memiliki nilai cagar budaya sekaligus karakter lingkungan yang perlu dijaga agar tidak rusak oleh perubahan pembangunan.
“Seharusnya di sini tuh daerah yang hijau, dibuat jadi jalan. Kan aneh, jalan Batutulis longsor, berarti batunya pecah kan gitu loh. Nah ini yang gini-gini deh,” katanya.
Dedi mengatakan, dalam pembangunan wilayah saat ini, kajian sejarah yang diperdalam melalui pendekatan akademik perlu dijadikan dasar dalam penataan pembangunan, termasuk dalam penyusunan tata ruang kawasan bersejarah, baik untuk saat ini maupun ke depan.
Menurutnya, hasil kajian tersebut tidak hanya berhenti sebagai arsip pengetahuan, tetapi juga harus diterapkan dalam konsep tata ruang, tata bangunan hingga arah pembangunan daerah.
“Jadi naskah akademik itu harus turun jadi tata ruang, tata bangunan, tata kelola pendidikan, tata kelola kesehatan. Sehingga antara sejarah masa lalu dengan masa depan menjadi satu kesatuan,” ucapnya.
Ia menilai, pembangunan yang dilakukan saat ini masih banyak yang mengabaikan keterkaitan antara sejarah kawasan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.
