Sawah di Tengah Beton, Ketika Kota Memakan Lumbung Pangannya

Lahan sawah di samping Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung dikepung gedung dan jembatan layang. (Grafis diolah A
Lahan sawah di samping Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung dikepung gedung dan jembatan layang. (Grafis diolah AI)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Hari itu mentari mulai meninggi. Mang Bujang duduk sejenak sembari menikmati bekal setelah membuat pematang sawah beberapa meter. Lalu pandangannya sedikit tertahan pada bulldozer yang sibuk menguruk petak sawah tak jauh dari tempatnya berdiri.

Pria 60 tahun itu prihatin melihat lahan pertanian di kampungnya yang makin menyempit. Di hadapannya, tanah yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan perlahan berubah menjadi bagian dari kota yang terus tumbuh.

Warga Kelurahan Cimincrang, Kota Bandung, itu menceritakan bahwa ia sudah mulai mengolah tanah yang tak jauh dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) itu sejak 1980-an.

Baca Juga:Pemerintah Dorong Pengembangan Jargas di Gresik dan Sidoarjo245 Lulusan Perguruan Tinggi Tasikmalaya Dilepas Magang Nasional, Bukan Sekadar Pegang Ijazah

“Dulu belum ada GBLA, belum ada perumahan, masih hamparan,” katanya, Senin (14/9).

Pria kelahiran Kabupaten Indramayu itu memang bukan pemilik lahan pertanian. Namun sejak pindah ke Bandung di era 1980-an, ia sudah langsung berkutat dengan cangkul dan sabit. Maklum, itu adalah keterampilan warisan orang tuanya.

Ia menggarap dengan sistem sewa. Ia menyewa hamparan tanah milik warga Kota Bandung, khususnya di daerah Cimincrang yang kemudian diolah menjadi petak-petak padi ataupun sayuran.

“Sewa dihitung per tumbak (petak.red). Kalau sekarang Rp 1,5 juta semusim. Dulu harga masih Rp 300 ribu,” jelasnya.

Pria yang giginya sudah tak lengkap itu melanjutkan, saat ini hanya 5 petak sawah yang ia sewa. Itu bukan karena tak mampu sewa, tapi karena memang lahan yang sudah menyempit. Di tahun 2000-an misalnya, ia pernah menyewa lahan sampai 300 petak. Lahan itu kini telah berubah menjadi komplek perumahan.

Mang Bujang mengaku sedih dengan kondisi itu. Karena ia tak lagi bisa menikmati panen melimpah. Dulu satu hektar sawah bisa menghasilkan sekitar 5 ton gabah dan bisa lebih jika cuaca mendukung dan tak diserang hama.

Namun ia juga tak bisa berbuat banyak menghentikan lahan pertanian yang terus terkikis tersebut. Ia bukan tuan tanah.

Baca Juga:Fakta! Ternyata Gubernur Sherly Tjoanda – Ahmad Luthfi Sering Duduk BerdampinganTiga Rumah Panggung di Bojonggambir Ludes Dilalap Api, Diduga Bara Tungku Gula Aren Jadi Pemicu

“Sekarang itu pemilik tanah bukan petani. Tanah sudah diwariskan ke anak cucu, mereka sudah kerja di bidang lain,” katanya.

0 Komentar