Sawah di Tengah Beton, Ketika Kota Memakan Lumbung Pangannya

Lahan sawah di samping Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung dikepung gedung dan jembatan layang. (Grafis diolah A
Lahan sawah di samping Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung dikepung gedung dan jembatan layang. (Grafis diolah AI)
0 Komentar

Perubahan itu bukan sekadar cerita tentang hilangnya sawah. Di kota dengan penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, menyusutnya lahan pertanian juga berarti semakin kecil kemampuan Bandung menyediakan pangannya sendiri.

Satu per Satu Sawah Masuk Pasar

Menipisnya lahan pertanian itu bukan sekadar keresahan dari Mang Bujang. Namun kondisi itu memang menjadi potret yang mulai masif di Kota Bandung.

Misalnya dari pantauan Jabar Ekspres, sejumlah lahan pertanian di Kota Bandung yang statusnya dijual. Seperti di kawasan Gedebage atau area Stadion GBLA itu, sawah-sawah mulai banyak yang dipasangi plang dengan status dijual.

Baca Juga:Pemerintah Dorong Pengembangan Jargas di Gresik dan Sidoarjo245 Lulusan Perguruan Tinggi Tasikmalaya Dilepas Magang Nasional, Bukan Sekadar Pegang Ijazah

H Rahmat salah satu pemilik lahan mengaku memilih menjual tanahnya karena memang anak atau cucunya tak lagi ada yang minat meneruskan jadi petani. Di tambah lahan di kanan-kirinya juga sudah banyak berubah.

“Lebih baik saya jual saja, tanah juga makin terhimpit bangunan dan jalan,” jelasnya, Selasa (15/9).

Kondisi serupa juga terjadi di kecamatan lain. Misalnya di Cinambo, sawah di samping Kantor Kecamatan Cinambo. Lahan pertanian yang masih produktif itu juga tengah dijual.

Kemudian di daerah Kelurahan Derwati Kecamatan Rancasari, sawah-sawah juga banyak yang dijual karena nampak posisinya sudah terjepit komplek perumahan. “Lebih untung kalau dijual, sawah juga makin tertutup rumah dan bangunan,” terang salah satu pemilik lahan, H Wijaya.

Tanah – tanah sawah itu dijual dengan harga beragam tergantung lokasi. Misalnya di area Gedebage yang dekat Masjid Al Jabar atau Stadion GBLA, pemilik menawarkan dari Rp 3,5 juta per meter persegi.

Cerita Mang Bujang ternyata bukan pengecualian. Angka menunjukkan kehilangan lahan yang jauh lebih besar. Berdasarkan data Open Data Kota Bandung. Tercatat lahan pertanian pada 2003 masih di angka 2.104 hektar. Pada 2015 angkanya menyusut hingga tersisa 736 hektar, dan tersisa 641 hektar pada 2025.

Data pembanding, Badan Pusat Statistik (BPS) sempat mencatat bahwa luas sawah di Kota Bandung tersisi 702 hektar pada 2024. Atau tersisa sekitar 4 persen dari total wilayah Kota Bandung.

Baca Juga:Fakta! Ternyata Gubernur Sherly Tjoanda – Ahmad Luthfi Sering Duduk BerdampinganTiga Rumah Panggung di Bojonggambir Ludes Dilalap Api, Diduga Bara Tungku Gula Aren Jadi Pemicu

Hal itu juga diperkuat dengan peta dan citra satelit yang merekam perubahan spasial Kota Bandung. Misalnya dari platform mapbiomas.org, pada 2010 lahan sawah pertanian ada di angka 1.520 hektar atau 9,1 persen. Lalu di 2024 lahan tersebut tersisa 1.333 hektar atau 8 persen.

0 Komentar