Bandung Tak Bisa Makan dari Sawahnya Sendiri
Krisis lahan pertanian di Kota Bandung itu bukan hanya soal perubahan peta, tapi erat kaitanya dengan ketahanan pangan. Kota yang berjuluk Kota Kembang ini setidaknya dihuni 2,5 juta jiwa pada 2024. Mereka butuh makan setiap hari, khususnya beras.
Badan Pusat Statistik (BPS) sempat mencatat berdasarkan Susenas 2024, konsumsi beras warga Kota Bandung ada di angka 1,209 kg per kapita seminggu atau 62,89 kg per kapita setahun. Lalu jika ditaksir kebutuhan beras rumah tangga setahun tembus 159,11 ribu ton. Ditambah dengan hitungan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, kebutuhan beras non rumah tangga ada di 116 ribu ton setahun. Sehingga kebutuhan beras setahun ada di angka 275,11 ribu ton.
Sementara itu BPS juga mencatat bahwa produksi beras Kota Bandung dengan sisa lahan yang ada pada 2024 ada di 6.667 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan 3.781 ton beras. Sehingga produksi beras lokal Kota Bandung hanya memiliki kontribusi kurang dari 3 persen dari total kebutuhan beras warganya.
Baca Juga:Pemerintah Dorong Pengembangan Jargas di Gresik dan Sidoarjo245 Lulusan Perguruan Tinggi Tasikmalaya Dilepas Magang Nasional, Bukan Sekadar Pegang Ijazah
Bahkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2025-2029, juga telah memetakan jurang menganga antara ketersediaan dan kebutuhan pangan itu. Dalam dokumen tersebut dicantumkan analisis bahwa kebutuhan pangan warga Kota Bandung tembus 2.005.406.627.845,35 kkal/tahun. Namun ketersedian pangan hanya di angka 52.950.706.157,00 kkal/tahun.
Data itu juga dirincikan tiap kecamatan. Dengan posisi ketersediaan pangan tersbesar ada di Kecamatan Gedebage dengan 4.412.992.809,03 kkal/tahun. Namun kecamatan itu juga belum mampu memenuhi kebutuhan pangan semua warganya yang di angka 33.064.564.928,30 kkal/tahun. Sehingga semua kecamatan tidak ada yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
Ketika Beras Bandung Datang dari Kota Lain
Ternyata Kota Bandung cukup mengandalkan pasok dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Hal itu diakui oleh Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar.
Gin Gin menjelaskan, sempitnya lahan pertanian adalah masalah hampir semua kota besar termasuk Kota Bandung. Karenanya, pasok makanan di Kota Bandung sangat tergantung dari luar daerah. “ Hampir 94 persen pangan itu didatangkan dari luar. Tidak hanya beras, hampir semua pangan segar,” jelasnya, saat ditemui di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kamis (17/9).
