Misalnya terkait dengan penetapan LSD. “Ini memang harus dipertahankan, tidak boleh dibiarkan alih fungsi,” sebutnya.
Ia juga menegaskan bahwa saat ini moratorium pembangunan komplek perumahan masih berlaku. Itu juga bagian mencegah alih fungsi lahan pertanian.
Saran Konsep Aglomerasi untuk Ketahan Pangan
Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung Andri Rusmanan turut merespon terkait rencana pembangunan RS Derwati. Menurutnya, pembangunan RS itu harus dilihat secara komprehensif dengan fungsi tata ruang kota.
Baca Juga:Pemerintah Dorong Pengembangan Jargas di Gresik dan Sidoarjo245 Lulusan Perguruan Tinggi Tasikmalaya Dilepas Magang Nasional, Bukan Sekadar Pegang Ijazah
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menuturkan, pembangunan RS Derwati jangan hanya dilihat dari aspek peningkatan pelayanan kesehatan. Namun juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap tata ruang, lingkungan, dan keberlanjutan lahan pertanian di Kota Bandung.
Menurut Andri, pembangunan fasilitas kesehatan merupakan kebutuhan masyarakat yang harus didukung. Namun, pembangunan tersebut tidak boleh mengabaikan kepentingan jangka panjang kota, khususnya ketersediaan pangan dan perlindungan ruang terbuka hijau.
“Kami tentu mendukung pembangunan rumah sakit sebagai bagian dari peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, jangan sampai kebutuhan pembangunan hari ini justru mengorbankan ketahanan pangan dan keseimbangan lingkungan untuk generasi mendatang,” terangnya, Selasa (22/9).
Sementara itu Pengamat Kebijakan Publik Unpad, Yogi Suprayogi Sugandi punya pandangan berbeda soal rencana pembangunan RS Derwati. Menurutnya rencana itu lebih baik direalisasikan.
Yogi menguraikan, konteks Kota Bandung saat ini sudah bukan lagi kota yang notabene kota agraris, namun sudah lebih mengarah ke kota metropolitan.
Kondisi itu membuat memang cukup sulit jika harus memaksakan keberadaan lahan pertanian. Kota metropolitan memiliki pertumbuhan yang cukup pesat baik penduduk maupun infrastruktur.
Lalu untuk ketahanan pangan, Ia lebih menyarankan konsep aglomerasi. Artinya kerja sama dengan daerah – daerah sekitar Kota Bandung atau Bandung Raya untuk pemenuhan kebutuhan ketahanan pangan warga Bandung. Konsep itu lebih realistis.
Baca Juga:Fakta! Ternyata Gubernur Sherly Tjoanda – Ahmad Luthfi Sering Duduk BerdampinganTiga Rumah Panggung di Bojonggambir Ludes Dilalap Api, Diduga Bara Tungku Gula Aren Jadi Pemicu
“Daerah yang banyak sawahnya di sekitar Kota Bandung, itu digandeng agar menjualnya ke Kota Bandung. Dan Bandung daya belinya juga tinggi, ” jelasnya, Selasa (22/9).
Di balik deru alat berat dan megahnya gedung baru di Kota Kembang ada pertanyaan sunyi yang terus berkejaran dengan waktu. Yaitu ketika kelah sepetak sawah terakhir di Bandung benar-benar telah tertutup aspal, lalu dari mana kota ini memesan sebiji nasi untuk kehidupan esok hari. Mang Bujang mungkin hanya bisa merawat lima petak sawah sisa sewanya hari ini. Namun sesungguhnya ia sedang merawat napas terakhir dari ketahanan sebuah kota yang perlahan memakan lumbungnya sendiri.(son)
