JABAR EKSPRES – Waduk Saguling di Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengalami penyusutan signifikan akibat kemarau panjang.
Surutnya permukaan waduk tersebut dimanfaatkan warga, khususnya di Desa Bojonghaleang, untuk mengolah lahan menjadi area pertanian musiman dengan menanam berbagai jenis sayuran.
Sejumlah tanaman seperti cabai, terong, mentimun hingga pakcoy mulai menghiasi lahan bekas genangan.
Baca Juga:Saguling Biosfer Jadi Arah Baru Pemulihan Lingkungan di Bandung BaratDLH Sebut Limbah Domestik hingga Industri Picu Meluasnya Eceng Gondok di Saguling
“Kami memilih menanam komoditas yang memiliki masa panen relatif cepat agar bisa dipanen sebelum permukaan air kembali naik,” ungkap Encek Supriadi (50) salah seorang penggarap, Minggu (23/8/2026).
Encek mengatakan dirinya sengaja memanfaatkan kondisi tersebut untuk bercocok tanam.
Menurutnya, kegiatan bertani di lahan yang muncul akibat surutnya Waduk Saguling sudah biasa dilakukan warga ketika kemarau berlangsung panjang.
“Begitu air surut dan daratan mulai terlihat, kami manfaatkan untuk menanam. Sekarang saya tanam cabai dan terong, sementara mentimun serta pakcoy juga ada,” kata Encek.
Ia menuturkan, kondisi surut tahun ini mengingatkannya pada kemarau panjang yang terjadi beberapa tahun lalu. Bahkan, saat ini bagian tengah waduk disebut sudah mulai terlihat karena permukaan air terus turun.
“Sudah sekitar empat bulan kemaraunya. Kondisinya mirip seperti 2023, waktu itu air bisa surut sampai enam atau tujuh bulan. Sekarang daratan di bagian tengah juga sudah kelihatan,” katanya.
Bagi Encek, bertani di lahan musiman tersebut menjadi kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ia mengaku biasanya mencari nafkah sebagai pedagang cobek di Lampung, namun memilih pulang ketika Waduk Saguling mulai surut.
“Saya biasanya jualan cobek di Lampung. Kalau air Saguling surut, saya pulang dulu untuk bertani. Setelah air naik lagi, baru saya kembali berdagang,” tuturnya.
Baca Juga:Dari Gulma Jadi Cuan, Eceng Gondok Waduk Saguling Bakal Diolah Jadi Aneka ProdukPemkab KBB Fokus Penanganan Eceng Gondok di Dua Desa Sekitar Waduk Saguling
Ia menyebut hasil pertanian tersebut cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam kondisi tanaman tumbuh baik dan harga jual menguntungkan, hasil panen cabai saja dapat menghasilkan omzet sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta.
“Kalau sedang bagus, cabai bisa sekitar 70 kilogram, mentimun lebih dari delapan kuintal, pakcoy sekitar 50 kilogram, sedangkan terong bisa mencapai dua kuintal,” pungkasnya. (Wit)
