DLH Sebut Limbah Domestik hingga Industri Picu Meluasnya Eceng Gondok di Saguling

Masyarakat bergotong royong bersihkan eceng gondok di perairan Waduk Saguling, Bandung Barat. Dok Jabar Ekspre
Masyarakat bergotong royong bersihkan eceng gondok di perairan Waduk Saguling, Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengungkap penyebab pesatnya pertumbuhan eceng gondok di Waduk Saguling.

Menurunnya kualitas air akibat pencemaran limbah domestik, industri, hingga aktivitas keramba jaring apung (KJA) disebut menjadi faktor utama yang memicu meluasnya gulma air tersebut.

Kepala DLH Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Adjie, mengatakan pesatnya pertumbuhan eceng gondok tidak terlepas dari kondisi kualitas air Waduk Saguling yang telah mengalami pencemaran.

Baca Juga:Persib Ungkap Proses Rekrut Sandy Walsh dan Luka Menalo, Isyaratkan Transfer Belum SelesaiKios Liar di Area Masjid Agung Tasikmalaya Dibongkar, Pedagang Mulai Tinggalkan Lokasi

“Benar, cepatnya pertumbuhan eceng gondok memang dipengaruhi kualitas air di Waduk Saguling yang sudah terpapar limbah,” kata Ibrahim, Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan, limbah yang masuk ke perairan meningkatkan kandungan zat organik dan nutrisi di dalam air. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi eceng gondok untuk berkembang lebih cepat.

Menurut Ibrahim, selain limbah domestik dan industri, aktivitas budidaya ikan melalui keramba jaring apung juga turut memengaruhi kualitas air waduk. Hal itu disebabkan sisa pakan ikan yang tidak termakan akan mengendap di dasar perairan.

“Berdasarkan informasi dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, endapan pakan tersebut akan mengalami proses penguraian sehingga menambah kandungan nutrisi di dalam air dan mempercepat pertumbuhan eceng gondok,” jelasnya.

Ia menuturkan, eceng gondok umumnya tumbuh subur di perairan yang memiliki kandungan bahan organik tinggi. Karena itu, keberadaan tanaman tersebut dapat menjadi indikator menurunnya kualitas air.

“Eceng gondok sebenarnya menjadi indikator bahwa air sudah tercemar. Ketika eceng gondok diangkat, biasanya akan muncul bau dari air. Itu menandakan kualitas perairannya sudah tidak baik,” ujarnya.

Sementara itu, Manager Administrasi Indonesia Power UBP Saguling, Huta Rianto, mengatakan dari total luas Waduk Saguling sekitar 5.000 hektare, sedikitnya 120 hektare saat ini telah tertutup eceng gondok.

Baca Juga:Pengaspalan di Area Alun-Alun Singaparna Dimulai, Ratusan Lapak Pedagang di Bahu Jalan DitertibkanRumor Osmar Vieira ke Persib Mencuat, Benarkah Pangeran Biru Siapkan Peran Baru untuk Eks Pelatih Persepolis?

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi kualitas air yang masuk ke Waduk Saguling yang masih tercemar sehingga memicu pertumbuhan gulma air semakin cepat.

“Kualitas air yang masuk ke Saguling memang masih kurang baik. Kondisi itu menyebabkan eceng gondok berkembang sangat pesat,” kata Huta.

0 Komentar