Lewat Apartemen Magot, Sampah Organik KBB Disulap Jadi Pakan Ayam

Lewat Apartemen Magot, Sampah Organik KBB Disulap Jadi Pakan Ayam
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail bersama Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan saat melihat proses magot di kawasan Dago Giri. Selasa (18/8). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pengolahan sampah organik di Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai diarahkan tidak hanya untuk mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu inovasi yang dikembangkan yakni apartemen magot di kawasan Dago Giri. Sistem tersebut memanfaatkan larva lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) untuk mengurai sampah organik sekaligus menghasilkan magot dan telur ayam.

Penggagas Apartemen Magot, Linus Ampang Pasasa, mengatakan metode tersebut memiliki proses penguraian yang relatif cepat. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam sistem dapat terurai dalam waktu sekitar dua hari.

Baca Juga:Di Balik Merah Putih yang Berkibar, Ngatiyana Singgung Persoalan Sampah di CimahiBandung Kebanyakan Bicara Insinerator, Pemilahan Sampah dari Hulu Justru Terabaikan

“Kalau kita memasukkan sampah ke dalam sistem ini, dua hari itu sudah terurai,” kata Linus saat dijumpai di Lembang, Bandung Barat, Selasa (18/8/2026).

Menurut Linus, konsep tersebut dibuat dengan teknologi yang sederhana sehingga relatif mudah diterapkan masyarakat. Satu unit apartemen magot membutuhkan investasi sekitar Rp45 juta dan dapat digunakan untuk mendukung pemeliharaan hingga 100 ekor ayam di lahan berukuran sekitar 1×6 meter.

Namun, operasional di lokasi tersebut saat ini baru menampung sekitar 40 ekor ayam. Kondisi itu disesuaikan dengan ketersediaan sampah organik sebagai sumber pakan magot.

“Kalau jumlah ayam terlalu banyak sementara sampahnya sedikit, tentu akan kekurangan makanan,” ujarnya.

Dalam kondisi pasokan sampah yang mencukupi, satu unit sistem tersebut dapat mengolah hingga sekitar 250 kilogram sampah organik setiap hari. Sumber sampah tidak terbatas dari rumah tangga, tetapi juga terbuka dari sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA).

Linus mengatakan, pengelolaan sampah dari sektor usaha menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan untuk memperbesar kapasitas pengolahan.

“Di sini kami siap menampung sampah dari HOREKA. Sampah mereka belum tentu semuanya diolah,” tegasnya.

Baca Juga:Kapasitas Sarimukti Menyusut, Bandung Barat Siapkan Pengolahan Sampah MandiriKrisis Sarimukti Memanas, Warga Ancam Blokade Truk Sampah Bandung Raya ke Bandung Barat

Dari proses tersebut, sampah organik tidak sekadar berakhir sebagai limbah. Magot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam, sementara telur ayam menjadi produk bernilai ekonomi yang dapat mendukung keberlanjutan pengelolaan.

Hasil penjualan telur nantinya dapat digunakan untuk membiayai operasional pengelola maupun disalurkan untuk kepentingan sosial masyarakat.

0 Komentar