“Henti jantung itu mau di jalan, mau di kolam renang, mau di mana pun bisa terjadi,” ujarnya.
Di sisi lain, meja pemeriksaan kesehatan tak kalah ramai. Warga mengantre untuk memeriksa tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat.
Lasiape mengatakan pemeriksaan tersebut menyasar terutama masyarakat berusia di atas 30 tahun. Namun perubahan pola hidup membuat gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, gula darah, dan asam urat juga mulai ditemukan pada usia lebih muda.
Baca Juga:Hilman Rasyid Pimpin Pemuda PERSIS, Usung "Panca Jihad" Hadapi Disrupsi DigitalEra AI Datang, AP2TPI Tegaskan Psikologi Tak Boleh Kehilangan Nilai Kemanusiaan
“Pola hidup zaman sekarang beda dengan pola hidup zaman dulu,” katanya.
Bagi warga, kegiatan itu menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh tanpa harus datang ke rumah sakit.
Perwakilan BBWS Citarum, Annisa, yang mengikuti kegiatan tersebut menilai edukasi BHD penting karena memberikan kemampuan dasar untuk menghadapi keadaan darurat.
Jika seseorang tiba-tiba pingsan atau terjatuh, masyarakat setidaknya mengetahui pertolongan awal yang dapat diberikan sebelum korban mendapat penanganan lebih lanjut.
“Kalau terjadi situasi gawat darurat, kita memiliki kemampuan untuk menolong orang pertama kalinya dengan pengetahuan yang didapat dari pelatihan ini,” ujarnya.
Yayan berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti di Dago. Pengetahuan BHD, menurut dia, perlu semakin dekat dengan masyarakat karena beberapa menit pertama setelah henti jantung dapat menjadi masa yang menentukan.(win)
