Bahkan pada malam itu beberapa pedagang juga sejenak meninggalkan lapaknya. Urusan jual beli ditinggal sejenak. Mereka fokus untuk nobar. “Biarkan dulu lah jualannya, dukung Persib dulu yang penting, ” canda Didi.
Lebih dari 120 menit berlalu, adu penalti dimulai. Suasana malam itu berubah menjadi sedikit sunyi. Para pedagang fokus menatap layar, ada yang terdiam dan khusuk berdoa, pengamen juga berhenti memetik gitar.
Kemudian drama menegangkan itu berakhir. Hasilnya memang tak sesuai harapan. Persib Bandung gagal membawa pulang Piala Presiden.
Baca Juga:Walau Persib Kalah di Final Piala Presiden, Bobotoh Tasikmalaya Gembira Bawa Pulang Sepeda Listrik dari PolresKorsleting Diduga Jadi Pemicu, Kebakaran Hebat Hanguskan 11 Rumah dan Sekolah di Sodonghilir
Wajah lesu dan kecewa nampak terpancar di wajah Didi dan beberapa pedagang yang nobar malam itu. Namun pasar tak mengenal waktu untuk terlalu lama larut dalam kesedihan. Didi dan para pedagang kembali beradu keringat dengan sayur dan ikan. Baginya kekalahan malam itu tak perlu terlalu lama disesali.
Layar televisi dimatikan, tapi harapan mereka untuk Persib tak ikut padam. Liga 1 menunggu, Didi dan para pedagang Pasar Ciroyom kembali gigih bekerja agar bisa nabung untuk beli tiket Liga 1.(son)
