Aroma bawang dan lengkuas bercampur amisnya ikan masih menyengat di Pasar Ciroyom Bandung malam itu. Di sela tawar – menawar yang belum usai, sejumlah pedagang malah berkumpul di depan layar televisi 24 inci.
Hendrik Muchlison, Jabar Ekspres, Bandung
Mata mereka tak sibuk menghitung uang ataupun menata lembaran daun pisang. Tapi tertuju pada laga Persib Bandung.
Ya, Kamis (6/8) malam itu jadi momen penting yang cukup dinanti bagi warga Bandung khususnya. Karena Persib Bandung tengah bertanding dalam laga Final Piala Presiden 2026.
Baca Juga:Walau Persib Kalah di Final Piala Presiden, Bobotoh Tasikmalaya Gembira Bawa Pulang Sepeda Listrik dari PolresKorsleting Diduga Jadi Pemicu, Kebakaran Hebat Hanguskan 11 Rumah dan Sekolah di Sodonghilir
Warga Bandung yang mayoritas berDNA Bobotoh termasuk para pedagang Pasar Ciroyom tak bisa mendukung langsung tim kebanggaan. Karena laga hidup mati melawan Persebaya itu digelar di Bali, dan memang digelar tanpa penonton.
Namun hal itu bukan hambatan bagi warga Bandung untuk memberi dukungan. Doa selalu terpanjat sembari menyaksikan laga melalui layar televisi. Seperti di salah satu sudut Los Sayur dan Ikan Pasar Ciroyom malam itu. Sudut Pasar itu jadi tribun dadakan.
Tak ada yang pakai jersey resmi malam itu. Ada yang masih pakai celemek ada pula yang tangannya masih basah dan bau ikan. Tapi ketika Patricio Matricardi berhasil menyamakan kedudukan di menit 24, mereka langsung bersorak.
“Ayo libas Persebaya, bawa pulang pialanya, ” teriak Didi Kusnadi, pemilik kios sayur yang malam itu sengaja menyalakan televisinya agar bisa digunakan untuk nonton bareng (nobar).
Didi menjelaskan, televisi yang ada di kiosnya memang sudah biasa jadi tempat nobar. Apalagi kalau Persib Bandung yang sedang bertanding. “Para pedagang pada ngumpul ke sini. Orang lewat, pengamen juga ikutan, ” jelasnya.
Didi memang Bobotoh tulen. Sejak di bangku SD sudah senang dengan Persib Bandung. Semasa muda ia sering menyempatkan untuk mendukung langsung Pangeran Biru ke stadion.
Namun kini ia tak lagi muda dan ada tanggung jawab menghidupi keluarga dengan berdagang. Tetapi rasa cinta itu tak sirna seiring bertambahnya usia. Karenanya sebagai obat rindu, ia sengaja memasang televisi di kiosnya. “Untuk hiburan ia, tapi yang pasti untuk nobar Persib, ” cetusnya.
