Pemkab Tasikmalaya Ajak Semua Elemen Wujudkan Zero Stunting, Tekankan Pencegahan Agar Tak Ada Kasus Baru

Wakil Bupati Asep Sopari Al Ayubi bersama lintas sektor usai Rakor Persiapan Bulan Penimbangan Balita (BPB)
Wakil Bupati Asep Sopari Al Ayubi bersama lintas sektor usai Rakor Persiapan Bulan Penimbangan Balita (BPB) Agustus dan Persiapan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tingkat Kabupaten Tasikmalaya/Foto: Prokopim
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk semakin serius memperkuat upaya pencegahan stunting dengan target tidak ada lagi kasus stunting baru di daerah. Stunting ditegaskan sebagai persoalan yang dapat dicegah apabila seluruh pihak bergerak bersama melalui berbagai intervensi sejak dini.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Persiapan Bulan Penimbangan Balita (BPB) Agustus dan Persiapan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tingkat Kabupaten Tasikmalaya yang digelar di Aula Wiradadaha Bappelitbangda, Kamis (23/7/2026).

Wakil Bupati Tasikmalaya, H. Asep Sopari Al Ayubi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam penyediaan data status gizi balita yang akurat sekaligus memperkuat percepatan penurunan stunting di Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga:SPP Sekolah Negeri Hanya Fatamorgana, Jabar Mampu Gratiskan Hingga Swasta!Kekeringan Kian Meluas, Dari Perkampungan hingga Kawasan Perkotaan Tasikmalaya Mulai Krisis Air Bersih

Saat dikonfirmasi Jumat (24/7/2026), Asep menegaskan target pemerintah daerah bukan sekadar menurunkan angka stunting, melainkan mewujudkan zero stunting, yakni tidak ada lagi kasus stunting baru.

“Target kita adalah tidak ada lagi kasus stunting baru di Kabupaten Tasikmalaya. Ini hanya bisa terwujud apabila seluruh elemen masyarakat berkolaborasi dan menjadikan pencegahan sebagai prioritas bersama,” ujar Asep.

Menurutnya, stunting merupakan masalah yang dapat dicegah melalui berbagai upaya, mulai dari pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin, peningkatan sanitasi, pemberian edukasi kepada orang tua, hingga penguatan layanan kesehatan di tingkat desa dan puskesmas.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Tasikmalaya terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2022 angka stunting tercatat 27,2 persen, kemudian turun menjadi 20,7 persen pada 2023, dan kembali menurun menjadi 17,1 persen atau sekitar 17 persen pada 2024.

Meski tren penurunannya cukup signifikan, angka tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan melalui intervensi berkelanjutan agar tidak muncul kasus-kasus baru.

Karena itu, Asep mengajak seluruh organisasi perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, TP PKK, dunia pendidikan, hingga masyarakat untuk terus memperkuat sinergi dalam melindungi generasi penerus dari ancaman stunting.

Baca Juga:Golkar Cianjur Tegaskan Komitmen Kawal Pemerintahan Wahyu-Ramzi16.869 Jiwa di Tasikmalaya Mulai Kesulitan Air Bersih, BPBD Siapkan Distribusi 100 Ribu Liter Air

“Stunting bukan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Dengan kerja sama semua pihak dan pencegahan yang dilakukan secara konsisten, kita optimistis tidak akan ada lagi kasus stunting baru di Kabupaten Tasikmalaya,” tegasnya.

0 Komentar