Bandung Barat Lepas Ekspor 20,4 Ton Kopi Java Halu ke Empat Negara

Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail beserta jajarannya saat melepas kopi Arabika Java Halu ke empat nega
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail beserta jajarannya saat melepas kopi Arabika Java Halu ke empat negara. Senin (20/7). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sebanyak 20,4 ton kopi Arabika Java Halu asal Kabupaten Bandung Barat resmi diekspor ke empat negara, yakni Australia, Jepang, Vietnam, dan Inggris.

Ekspor tersebut menjadi tonggak baru bagi kopi lokal setelah berhasil menembus pasar Vietnam yang dikenal memiliki persyaratan impor sangat ketat.

Pelepasan ekspor dilakukan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail. Ia menyebut, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan karena menunjukkan kopi hasil petani Bandung Barat semakin diakui di pasar internasional.

Baca Juga:Golkar Cianjur Tegaskan Komitmen Kawal Pemerintahan Wahyu-Ramzi16.869 Jiwa di Tasikmalaya Mulai Kesulitan Air Bersih, BPBD Siapkan Distribusi 100 Ribu Liter Air

“Hari ini kita melaksanakan pelepasan ekspor kopi Java Halu ke empat negara. Ini menjadi sebuah kebanggaan bagi Kabupaten Bandung Barat karena memiliki kopi yang sudah diakui di pasar internasional,” kata Jeje di Ngamprah, Senin (20/7/2026).

Ia menjelaskan, kopi yang diekspor terdiri atas empat proses pengolahan, yakni natural, double wash, black honey, dan luwak enzimatik. Masing-masing dipasarkan ke negara berbeda sesuai karakter cita rasa konsumen di negara tujuan.

Jeje berharap meningkatnya ekspor dapat memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani kopi di Bandung Barat sekaligus mendorong peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar global.

“Semoga ini menginspirasi para petani untuk terus meningkatkan kualitas kopi agar semakin diakui oleh negara-negara lain,” katanya.

Sementara itu, petani sekaligus pengelola Java Halu, Rani, mengatakan keberhasilan memasuki pasar Vietnam merupakan pencapaian terbesar selama hampir tujuh tahun mengembangkan kopi Java Halu.

Menurutnya, Vietnam menerapkan regulasi impor yang lebih ketat dibanding Jepang. Jika Jepang mewajibkan produk bebas dari enam jenis residu kimia, Vietnam mengharuskan kopi lolos pengujian terhadap 46 parameter residu kimia dan pestisida.

“Alhamdulillah, berkat dukungan perguruan tinggi, dinas terkait, dan pemerintah daerah, kami berhasil menyusun metode mitigasi risiko sehingga lolos Certificate of Analysis (COA) dan bisa masuk ke pasar Vietnam,” katanya.

Baca Juga:Kurangi Sampah Plastik, ITB Olah Styrofoam Jadi Perekat Bernilai EkonomiPemkab Tasikmalaya Perkuat Mitigasi Kekeringan, Lintas Sektor Disiagakan Hadapi Meluasnya Dampak Kemarau

Saat ini Java Halu mengelola sekitar 60 hektare kebun kopi dengan melibatkan 160 petani, di mana sekitar 80 persen petani maupun pengolah kopi merupakan perempuan. Dari luasan tersebut dihasilkan sekitar 300 ton buah kopi (cherry) setiap musim panen.

0 Komentar