Untuk kebutuhan upacara bendera maupun olahraga, lanjut Asep, para siswa nantinya dapat memanfaatkan fasilitas Alun-Alun Soreang yang lokasinya berdekatan dengan sekolah.
Pemanfaatan gedung tersebut juga diharapkan mampu menata wajah kawasan pusat ibu kota Kecamatan Soreang. Menurutnya, area di depan eks RS Soreang selama ini terlihat kurang tertata karena dipenuhi bangunan liar dan papan informasi.
“Dengan hadirnya sekolah ini, kawasan yang tadinya gelap akan menjadi hidup dan memperkuat kelengkapan fasilitas publik di pusat Soreang bersama dengan Kantor Kecamatan, Masjid Agung, dan Polsek,” ujarnya.
Baca Juga:Pertanian Dipercepat, Mentan Siapkan Tambahan Anggaran untuk Perluas Program PetaniIndonesia Bidik Peluang Bisnis Penerbangan ASEAN-China Lewat Penguatan Konektivitas Udara
Berdasarkan data Disdik Kabupaten Bandung, jumlah lulusan SD dan MI di Kecamatan Soreang setiap tahun mencapai sekitar 1.985 hingga 2.000 siswa. Sementara total daya tampung SMP Negeri baru mendekati 1.900 siswa setelah adanya tambahan tiga rombel dari SMPN 5 Soreang.
Jika mengacu pada jumlah riil anak usia sekolah yang mencapai sekitar 2.115 orang, termasuk anak putus sekolah yang kembali melanjutkan pendidikan, kebutuhan penambahan unit SMP Negeri di Kecamatan Soreang masih cukup mendesak.
Sementara terkait besaran anggaran rehabilitasi gedung, Asep mengatakan nominalnya masih menunggu hasil perhitungan tim konsultan.
Meski terdapat beberapa bagian plafon yang lapuk dan bocor akibat lama tidak digunakan, secara umum kondisi struktur bangunan masih dalam keadaan baik.
Ia juga memastikan kekhawatiran masyarakat terkait bekas ruang jenazah tidak akan mengganggu aktivitas belajar. Area tersebut, kata dia, direncanakan dialihfungsikan menjadi rumah dinas Kepala Dinas Pendidikan.
Adapun seluruh siswa SMPN 5 Soreang yang saat ini masih belajar di SD Cibiru nantinya akan dipindahkan ke gedung baru setelah seluruh fasilitas siap digunakan.
“Jadi, perpindahan ini bukan berarti memindahkan sekolah filial atau kelas jauh, melainkan memindahkan siswa ke fasilitas gedung definitif milik mereka sendiri yang lebih representatif, setelah sebelumnya menumpang belajar di ruangan SD karena pembebasan lahan untuk sekolah baru di area ibu kota terkendala harga pasar tanah yang sangat tinggi,” pungkasnya.
