Indonesia Bidik Peluang Bisnis Penerbangan ASEAN-China Lewat Penguatan Konektivitas Udara

Indonesia Bidik Peluang Bisnis Penerbangan ASEAN-China Lewat Penguatan Konektivitas Udara
Ilustrasi Indonesia bidik peluang bisnis penerbangan ASEAN-China untuk pertumbuhan ekonomi. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri penerbangan kawasan dengan mendorong peningkatan konektivitas udara antara negara-negara ASEAN dan China.

Langkah ini tidak hanya bertujuan memperluas jaringan penerbangan, tetapi juga membuka peluang baru bagi sektor pariwisata, perdagangan, logistik, hingga industri perawatan pesawat.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam penyelenggaraan 17th ASEAN–China Working Group on Regional Air Services Arrangements (ACWG-RASA) di Yogyakarta yang mempertemukan delegasi pemerintah, maskapai penerbangan, operator bandara, perusahaan manufaktur, hingga pelaku industri maintenance, repair and overhaul (MRO) dari kawasan ASEAN dan China.

Baca Juga:Kecelakaan Beruntun Terjadi di Kawalu, Pengemudi Fortuner Diduga Masih Remaja Bawah UmurFebrie Adriansyah Mundur dari Jabatan Jampidsus, Sebut Demi Menjaga Integritas Institusi

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan Indonesia ingin memperkuat kerja sama penerbangan regional sebagai upaya memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan arus wisatawan dan perdagangan lintas negara.

“Penyelenggaraan pertemuan di Yogyakarta menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama penerbangan antara ASEAN dan China,” kata Lukman dikutip dari ANTARA, Senin (13/7).

Menurutnya, kerja sama penerbangan yang lebih terbuka akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi kawasan. Selain memperluas konektivitas, Indonesia juga ingin memperkuat posisinya dalam jaringan transportasi udara regional yang semakin kompetitif.

Forum tersebut dihadiri oleh 61 delegasi pemerintah dari negara-negara ASEAN dan China serta 127 perwakilan industri penerbangan yang terdiri atas maskapai, pengelola bandar udara, perusahaan manufaktur, penyedia layanan MRO, dan asosiasi penerbangan.

Selain membahas pengaturan layanan penerbangan, peserta juga mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi industri, mulai dari pertumbuhan bisnis kargo udara yang didorong oleh perdagangan elektronik (e-commerce), keterbatasan slot penerbangan di bandara, hingga dampak kondisi ekonomi global terhadap operasional maskapai.

Dari pembahasan tersebut lahir sejumlah rekomendasi strategis, antara lain peningkatan fleksibilitas slot penerbangan, penyempurnaan mekanisme MRO, peningkatan kapasitas layanan, penyederhanaan proses visa dan imigrasi, serta penguatan kerja sama dalam aspek keselamatan dan keamanan penerbangan.

Secara paralel, ASEAN juga membahas sejumlah agenda penting, termasuk percepatan implementasi ASEAN-China Air Transport Agreement (AC-ATA), usulan liberalisasi Hak Angkut Kelima (5th Freedom) untuk layanan kargo, pembukaan rute baru, hingga penambahan frekuensi penerbangan di kawasan.

0 Komentar