Di Balik 303 Ribu Ton Beras Tasikmalaya, Ada Irigasi Penentu Nasib Petani

Di Balik 303 Ribu Ton Beras Tasikmalaya, Ada Irigasi Penentu Nasib Petani
Proses rehabilitasi salah satu saluran irigasi di Kabupaten Tasikmalaya. Foto: DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kabupaten Tasikmalaya mampu memproduksi 303.117 ton beras per tahun, atau setara dengan 524.895 ton Gabah Kering Giling (GKG). Capaian tersebut menempatkan Tasikmalaya sebagai produsen beras terbesar ke-7 di Jawa Barat dan masuk peringkat ke-3 nasional dalam peningkatan produksi beras. Namun di balik angka tersebut, terdapat satu faktor yang kerap luput dari perhatian, yakni keberadaan jaringan irigasi yang menentukan keberlangsungan produksi pangan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (PUTRLH) Kabupaten Tasikmalaya, Deden Ramdhan Nugraha, saat dikonfirmasi Selasa (4/8/2026) mengatakan, irigasi menjadi infrastruktur vital yang menjaga produktivitas puluhan ribu hektare sawah di Kabupaten Tasikmalaya.

“Irigasi bukan sekadar saluran air. Di balik setiap butir beras yang dikonsumsi masyarakat, ada jaringan irigasi yang memastikan sawah tetap produktif dan petani bisa terus menanam,” kata Deden.

Baca Juga:OASE Resort, Destinasi Staycation hingga Intimate Wedding Bernuansa Alam Ternyaman di BandungSoal Penempatan dan Penarikan SAL di Himbara, Purbaya Tunggu Arahan Gubernur BI Baru

Ia menjelaskan, pemerintah bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy terus memperkuat jaringan irigasi melalui rehabilitasi saluran utama sepanjang 28.693 meter atau sekitar 28,6 kilometer pada tahun 2026. Perbaikan difokuskan di sejumlah daerah irigasi strategis, termasuk DI Cikunten Paket 1 dan 2, DI Surakatiga, serta pemeliharaan jaringan di Kecamatan Pageurageung.

Selain rehabilitasi jaringan permukaan, pemerintah juga membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk menjamin pasokan air saat musim kemarau. Program tersebut dirancang untuk mengurangi risiko gagal panen, meningkatkan indeks pertanaman, serta memastikan lahan di bagian hilir tetap memperoleh air.

Tak hanya itu, pemerintah juga melaksanakan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di 73 lokasi pada 2026, yang terdiri dari 17 lokasi di Jawa Barat dan 56 lokasi di Jawa Tengah. Program ini melibatkan langsung Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) melalui pola swakelola sehingga pemeliharaan jaringan dapat berjalan lebih berkelanjutan.

Menurut Deden, keberadaan irigasi yang baik memungkinkan petani meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi 2 hingga 3 kali panen dalam setahun. Dampaknya bukan hanya meningkatkan produksi padi dan pendapatan petani, tetapi juga menjaga stabilitas pasokan beras serta memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Target kami bukan hanya membangun saluran irigasi, tetapi memastikan manfaatnya dirasakan petani. Ketika air mengalir lancar, sawah tetap subur, hasil panen meningkat, kesejahteraan petani ikut naik, dan posisi Tasikmalaya sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Barat dapat terus dipertahankan,” pungkasnya. (Hendi)

0 Komentar