JABAR EKSPRES – Upaya memperbaiki kualitas sarana dan prasarana pendidikan di Kota Cimahi masih menghadapi jalan panjang. Di tengah kebutuhan perbaikan infrastruktur sekolah yang terus meningkat, keterbatasan anggaran menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi pemerintah daerah.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi mengungkapkan, pada 2026 terdapat sejumlah program pembangunan dan revitalisasi sarana pendidikan yang tengah dipersiapkan. Namun, jumlah sekolah yang dapat ditangani masih harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
Kepala Bidang SMP Disdik Kota Cimahi, Juli Suprijadi, mengatakan untuk jenjang SMP saat ini pihaknya menjalankan dua kegiatan pembangunan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Baca Juga:Pria Lansia di Gunung Putri Bogor Ditemukan Tewas, Diduga Tak Kuat Kehilangan IstriPemkab Bogor Cek 81 Kendaraan Dinas, Lelang Jadi Opsi untuk Unit Tak Layak
Dua program tersebut yakni pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di SMP Negeri 5 Cimahi serta pembangunan SMP Negeri 14 Cimahi yang masih berada dalam tahap persiapan pelaksanaan.
“Dinas Pendidikan Kota Cimahi telah mengusulkan program revitalisasi pada 9 satuan pendidikan jenjang SMP,” ujar Juli kepada Jabar Ekspres, Rabu (24/6/2026).
Menurut Juli, dari sembilan sekolah yang diusulkan untuk mendapatkan revitalisasi, dua satuan pendidikan telah memperoleh tindak lanjut melalui jalur pemangku kepentingan. Saat ini, proses pelaksanaan program tersebut masih berjalan.
Sementara itu, usulan revitalisasi lainnya masih menunggu tahapan verifikasi dan penetapan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Adapun hingga saat ini belum terdapat kegiatan revitalisasi yang dinyatakan selesai pada Tahun 2026,” kata Juli.
Lebih lanjut, persoalan infrastruktur pendidikan menjadi salah satu tantangan besar bagi pemerintah daerah. Kebutuhan perbaikan gedung sekolah, ruang belajar, hingga fasilitas pendukung pendidikan harus berhadapan dengan kemampuan fiskal daerah yang terbatas.
Juli menyebut, tantangan terbesar yang dihadapi Disdik Kota Cimahi saat ini bukan hanya kondisi bangunan sekolah, tetapi juga keterbatasan anggaran dibandingkan dengan kebutuhan pembangunan dan perbaikan sarana prasarana pendidikan.
Baca Juga:Skinmology Usung Standar Eropa, Tawarkan Solusi Perawatan Kulit untuk Iklim TropisPGN Siap Datangkan Pasokan Gas Bumi dari Lapangan Sengeti, Ubah Stranded Gas Jadi Energi Berkelanjutan
“Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan anggaran dibandingkan dengan kebutuhan perbaikan dan pembangunan sarana prasarana pendidikan,” tutur Juli.
Selain persoalan anggaran, keterbatasan lahan di sejumlah satuan pendidikan juga menjadi hambatan dalam pengembangan fasilitas sekolah.
“Selain itu juga keterbatasan lahan pada beberapa satuan pendidikan. Untuk mengatasinya, Dinas Pendidikan melakukan pemetaan kebutuhan berdasarkan data dan kondisi riil sekolah,” jelasnya.
