JABAR EKSPRES — Badan Urusan Logistik (Bulog) Jawa Barat memastikan cadangan beras nasional dalam kondisi aman di tengah kekhawatiran publik terhadap dampak pemanasan global dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Direktur Utama Bulog Jawa Barat, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan, khususnya beras. Menurut dia, stok yang dimiliki Bulog saat ini masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
“Stok Bulog banyak. Jadi masyarakat tidak perlu bimbang dan tidak perlu ragu,” kata Ahmad saat menghadiri penyaluran bantuan pangan di Desa Arjasari, Kabupaten Bandung, Sabtu (22/5/2026).
Baca Juga:Indonesia Bidik Pasar Amerika Latin, Ekspor Nonmigas ke Meksiko Terus DiperkuatFokus Tekan Risiko Kecelakaan KA, Prabowo Gelontorkan Rp4 Triliun untuk Perlintasan dan Flyover
Ia menjelaskan, ketersediaan stok tersebut turut ditopang oleh berbagai program Kementerian Pertanian, termasuk program pompanisasi untuk membantu petani tetap dapat bercocok tanam di tengah tantangan iklim dan keterbatasan irigasi.
Menurut Ahmad, program itu membuat potensi panen masih dapat terus berlangsung dalam beberapa periode ke depan. Bahkan, di sejumlah wilayah yang memiliki dukungan irigasi memadai, peluang panen masih bisa berlangsung hingga dua kali musim tanam lagi.
“Harapannya panen tetap berjalan. Minimal masih ada satu periode panen lagi, bahkan bisa dua kali panen lagi tergantung kondisi irigasinya,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bulog juga menyalurkan bantuan pangan kepada warga di Desa Arjasari. Program tersebut merupakan bagian dari bantuan pemerintah yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan ditujukan kepada 33,2 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Khusus di Desa Arjasari, sebanyak 1.442 kepala keluarga tercatat menerima bantuan pada gelombang kedua penyaluran bantuan pangan tahun ini.
Ahmad menjelaskan, bantuan yang diberikan terdiri dari beras sebanyak 20 kilogram untuk alokasi dua bulan serta Minyakita sebanyak empat kilogram untuk periode yang sama. Bantuan itu menyasar masyarakat yang masuk dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSN) desil 1 hingga 3.
“Bantuan ini diharapkan bisa menjadi stimulus bagi saudara-saudara kita yang terdampak situasi ekonomi global saat ini,” katanya.
Baca Juga:Dapur MBG di Tamansari Bogor Kebakaran, Diduga Dipicu Kebocoran Gas Saat Ganti TabungBahlil Pastikan Ekspor Gas Aman di 2026, Industri Tak Perlu Khawatir
Ia mengakui kondisi ekonomi global turut memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Karena itu, bantuan pangan dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga ketahanan masyarakat lapisan bawah.
