JABAR EKSPRES – Setiap cup es teler yang dijual Salsabila (28) kini tak lagi sekadar minuman manis, tapi juga cerita tentang bertahan di tengah biaya usaha yang kian menyesakkan.
Di pinggir Jalan Raya Purabaya, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Salsa sapaan akrabnya setia melayani pembeli dari balik gerobak sederhana.
Di tengah lalu lintas yang padat dan cuaca yang tak menentu, ia menggantungkan penghasilan dari es teler yang dijual Rp10 ribu per cup.
Baca Juga:Ironi Ketenagakerjaan di Bandung Barat, Angka Turun tapi Pengangguran BertambahPredator Seksual Balita di Bandung Barat Divonis 12 Tahun Bui!
Namun, penjualan tak selalu stabil. Ia mengaku hanya mengandalkan lonjakan pembeli saat akhir pekan.
“Kalau Sabtu dan Minggu bisa sampai 30 cup yang laku. Tapi hari biasa paling 16 sampai 20 cup,” ujarnya kepada wartawan, Senin (27/4/2026).
Di sisi lain, biaya produksi terus merangkak naik, terutama dari sektor kemasan. Harga cup plastik yang sebelumnya Rp9 ribu per plastik isi 25 buah kini melonjak menjadi Rp19 ribu.
Kenaikan juga terjadi pada kantong plastik atau kresek. Dari semula Rp8 ribu, kini naik menjadi kisaran Rp12 ribu per ikat. Lonjakan ini membuat beban usaha kecil semakin berat karena hampir seluruh kebutuhan kemasan mengalami kenaikan.
Meski dihimpit biaya, Salsa memilih tidak menaikkan harga jual. Ia khawatir keputusan tersebut justru membuat pelanggan beralih.
“Kalau dinaikin takut pembeli kabur,” katanya.
Pilihan itu membuat margin keuntungan semakin tipis. Bahkan, pada hari-hari sepi, hasil penjualan hanya cukup untuk menutup modal dan kembali berjualan keesokan hari.
Di tengah kondisi tersebut, Salsa berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, khususnya bagi pelaku UMKM. Ia membutuhkan suntikan modal untuk menjaga usahanya tetap berjalan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Baca Juga:Waspada! 117 Kasus Campak Positif Ditemukan di Bandung BaratDaya Beli Lesu, Kenaikan Harga LPG Nonsubsidi Tekan Pasar di Bandung Barat
Selain itu, ia juga meminta pemerintah dapat menekan lonjakan harga bahan kemasan agar tidak semakin memberatkan pelaku usaha kecil.
“Harapannya ada bantuan modal dari pemerintah, terutama Dinas UMKM KBB, dan harga-harga kemasan bisa dikendalikan supaya tidak terus naik. Soalnya kami yang kecil ini paling terasa dampaknya,” pungkasnya. (Wit)
