Tak Pusing LPG Naik, Peternak Bandung Ubah Kotoran Hewan Jadi Energi

LPG
Anci Gustiarsah saat mengolah Kohe jadi biogas. (GRAFIS DIOLAH GEMINI AI)
0 Komentar

Anci cukup terbantu dengan hadirnya inovasi itu. Karena ia tak lagi keluar ongkos untuk beli LPG guna keperluan dapur. Pembelian LPG paling dilakukan kalau ada kegiatan masak besar keluarga seperti hajatan karena butuh banyak kompor. “Makanya harga LPG naik kami sudah tidak pusing, karena kompor menyala dari biogas,” ucapnya.

Hal senada juga dirasakan peternak lain di desa itu. Bahkan para peternak sampai tidak rela menjual habis sapi potongnya agar kompor biogasnya tetap menyala. “Mereka (peternak lain) itu kan ternak sapi potong, biasanya dijual habis kalau Idul Adha. Nah mereka tidak mau itu. Jadi selalu disisakan satu. Agar kohenya bisa untuk biogas,” sambung Anci.

Menurut Anci, penggunaan kompor berbahan biogas dari kotoran hewan itu juga cukup aman. Selama ini tidak sampai ada insiden kebocoran gas atau kebakaran yang dialaminya ataupun peternak lain.Sisi baik lainnya, inovasi itu cukup membantu mengurai limbah kotoran hewan. Satu instalasi biasanya bisa menampung sekitar 1 kuintal kohe per hari. Di tempatnya ada 3 instalasi. Jadi dari 5 kuintal kohe sudah terolah 3 kuintal tiap harinya. “Ini sebenarnya secara potensi kohe di kami masih melimpah, tinggal butuh dukungan pengembangan instalasi lagi,” tuturnya.

Baca Juga:Sinergi ALIDI di ARCH:ID 2026: Kolaborasi Lintas Disiplin Didukung JavacoDisrupsi Global Tak Terelakkan, DPR Dorong Lompatan Kebijakan Lintas Sektor yang Lebih Adaptif

Usaha Turunan dari Cacing hingga Ketahanan Pangan

Peternakan Lembu Sari tak berhenti mengolah kotoran hewan alias kohe menjadi biogas. Tapi juga menumbuhkan usaha turunan lain hingga membentuk ketahanan pangan mandiri. Bermula dari kolam biodigester. Instalasi pengolahan kohe itu ternyata masih menghasilkan cairan sisa fermentasi yang disebut slurry. Komposisinya air, tapi juga masih menyimpan sisa-sisa kotoran setelah gas dilepaskan, walau volumenya sudah tak sebanyak kohe padat.

Slurry itu kemudian dipindahkan ke tempat penampungan dan dicampur jerami-jerami bekas pakan sapi. Anci lalu menambahkan benih cacing. Hasilnya setelah diurai alami oleh cacing, slurry itu menjadi pupuk organik padat. Pupuk itu kaya unsur hara. Sangat cocok untuk pertanian atau media tanam kebun-kebun organik. “Sebulan bisa menghasilkan 2 ton pupuk bekas slurry itu. Kalau dijual bisa Rp1 ribu sekilo,” terang Anci.

0 Komentar