Tak Pusing LPG Naik, Peternak Bandung Ubah Kotoran Hewan Jadi Energi

LPG
Anci Gustiarsah saat mengolah Kohe jadi biogas. (GRAFIS DIOLAH GEMINI AI)
0 Komentar

Anci melanjutkan, potensi kotoran hewan alias kohe di peternakannya sangat melimpah. Dalam sehari, 60 ekor sapi yang dipeliharanya bisa menghasilkan sekitar 5 kuintal kohe. Dulu sebelum ada instalasi pengolahan biogas, kohe itu hanya ditumpuk begitu saja. Kohe dari kandang dibersihkan, lalu diangkut dan ditumpuk di suatu tempat.

Kohe bercampur jerami itu dibiarkan membusuk begitu saja. Pemanfaatannya paling banyak adalah untuk pupuk. Tapi prosesnya memakan waktu, bahkan bisa sampai 3 bulan. Makanya sering didapati gunungan kohe di sekitar kandang. “Cara itu memakan tempat banyak, kalau hujan juga basah. Belum lagi waktunya lama,” jelasnya.

Dari Hanya Ditumpuk kini Nyalakan Kompor 2 Rumah Tangga

Sekitar pertengahan 2024 angin segar berhembus. Peternakan Lembu Sari mendapatkan bantuan instalasi biogas dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Total ada 8 instalasi yang dibangun di Desa Patrolsari. Peternakan Anci mendapat 3 instalasi. Sisanya disebar ke peternak di desa itu. Inovasi teknologi itu membantu mengurai produksi limbah kotoran hewan peternakan, di samping manfaat utamanya sebagai sumber energi baru dalam bentuk gas.

Baca Juga:Sinergi ALIDI di ARCH:ID 2026: Kolaborasi Lintas Disiplin Didukung JavacoDisrupsi Global Tak Terelakkan, DPR Dorong Lompatan Kebijakan Lintas Sektor yang Lebih Adaptif

Anci bersama 3 pegawai peternakan pun sampai saat ini rajin mengoperasionalkan instalasi biogas itu. Pekerjaan itu biasanya dilakukan agak siang hari selepas memerah susu sapi. Mulanya, kohe dari kandang diangkut menggunakan gerobak. Kemudian dimasukkan ke dalam bak inlet. Kohe di bak berdiameter sekitar 1 meter itu dicampur dengan air dengan rasio 1:1. Lalu dialirkan ke kolam biodigester berdiameter sekitar 2,5 meter dan kedalaman 1,8 meter. Kolam itu telah tersambung pipa yang menangkap aliran gas dan air.

Pipa itu tersambung dengan instalasi penangkap air. Sehingga tersisa gas yang kemudian disambungkan ke beberapa kompor rumah tangga.Pertama adalah kompor yang ada di kandang. Kompor itu biasanya digunakan untuk memanaskan air untuk keperluan ternak, seperti minum atau perangsang sebelum proses memerah susu. Kemudian pipa gas disambungkan ke kompor yang ada di rumah. Setidaknya ada 2 rumah tangga yang memanfaatkan. “Rumah saya itu hampir 30 meter dari instalasi, tapi masih nyala,” cetus Anci.

Menurut Anci, nyala kompor dari biogas itu cukup stabil. Bahkan bisa bertahan 4 jam saat pengisian penuh. Selain itu, api pembakaran juga sudah tidak bau menyengat layaknya kotoran hewan. “Kalau gas saja tanpa api memang bau, tapi kalau sudah dinyalakan tidak bau,” ucapnya.

0 Komentar