“Rasa percaya diri pun perlahan kembali tumbuh. Anak jadi punya keyakinan bahwa esok hari masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri bahwa ia masih bisa “naik level” dan menjadi lebih baik dari sebelumnya,” tutur Intan.
Ia menegaskan, pendekatan tersebut dapat mencegah anak mengalami keterpurukan berkepanjangan. Karena itu, pola asuh dalam keluarga disebut sebagai fondasi utama dalam membentuk ketahanan mental anak.
Intan menegaskan, remaja tak hanya perlu pintar, tapi juga kuat secara mental. Resiliensi kemampuan bangkit setelah gagal, serta self-compassion atau sikap welas asih pada diri sendiri jadi kunci penting.
Baca Juga:Faktor Maraknya Child Grooming di Cimahi, UPTD PPA Cimahi Sebut Ancaman NyataFenomena Child Grooming Mengintai Anak di Era Digital, UPTD PPA Cimahi Ungkap Pola Senyap Kekerasan Seksual
“Jadi yang paling penting untuk mereka punya adalah resiliensi, seberapa mampu mereka untuk bangkit kembali setelah jatuh. Sama yang kedua adalah compassion. Compassion itu seberapa mampu mereka untuk bisa memberikan welas asih kepada diri sendiri ketika mengalami kegagalan,” imbuhnya.
Persepsi kegagalan menurut kepala UPTD PPA, berbeda pada tiap individu. Sebagian pelajar menganggap gagal masuk perguruan tinggi negeri sebagai kegagalan besar, sementara yang lain masih melihat alternatif lain dan masih bisa masuk di perguruan tinggi swasta sebagai peluang.
“Tidak bisa disamaratakan, dan tingkat kestresan tidak bisa juga disamakan,” katanya.
Dalam konteks akademik, tekanan tidak hanya dirasakan siswa dengan nilai rendah. Pelajar berprestasi justru kerap menghadapi beban lebih besar karena kekhawatiran mempertahankan capaian.
“Jadi bukan karena dia pinter, saat menghadapi ujian menjadi tenang, dia nggak akan stres, Justru orang yang lebih pinter yang biasa ranking mungkin akan merasa lebih galau menjadi beban ‘saat ujian takut nilainya lebih kecil dikalahkan sama orang’,” ujarnya.
Selain itu, perubahan zaman membuat sumber stres semakin beragam, termasuk kekhawatiran akan masa depan.
“Pelajar-pelajar sekarang pikirannya sudah sangat jauh. Mereka memikirkan, ke depannya itu mereka akan seperti apa,” jelas Intan.
Baca Juga:Oknum Aparat Desa Diduga Cabuli 2 Anak di Bawah Umur, Kasus akan Dilimpahkan ke Unit PPA Polres CimahiPemkot Cimahi Klaim Laksanakan Perda PPA
Paparan informasi dari media sosial dan berita global, seperti konflik dan bencana, turut memperbesar rasa cemas pada remaja.
“Media sosial itu membuka pintu yang sangat lebar untuk banyak kebaikan dan juga sisi negatif-negatif lainnya,” tambahnya.
