Retakan 80 Meter di Tol Cisumdawu, Pengendara Diminta Batasi Kecepatan saat Contra Flow

Unit PJR Tol Cisumdawu Satlantas Polres Sumedang ketika mengatur water barier untuk persiapan sebelum diberlak
Unit PJR Tol Cisumdawu Satlantas Polres Sumedang ketika mengatur water barier untuk persiapan sebelum diberlakukannya penerapan contra flow. (Yanuar Baswata/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Retakan di Jalan Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu) terdeteksi mulai muncul pada 27 Maret 2026. Retakan tersebut terjadi akibat pergerakan tanah yang cukup signifikan di area tersebut.

PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pembatasan kendaraan yang melintas sejak 4 April 2026.

Direktur Utama PT CKJT, Agustinus Sudrajat, mengatakan bahwa hingga Selasa (7/4/2026) pukul 09.15 WIB, pihaknya terus berkoordinasi dengan kepolisian dan BPJT terkait kondisi di lapangan serta langkah penanganan yang diambil.

Baca Juga:Aksi Perampokan Bermodus Investasi di Sentul Bogor Terbongkar, Empat Pelaku Dibekuk PolisiDi Puncak Tapi Tak Boleh Lengah, Persib Dapat Peringatan Keras dari Bojan Hodak 

“Kajian teknis dilakukan sekitar 2 bulan lalu. Setelah menggunakan alat pendeteksi pergerakan tanah permukaan, kemudian kami mengambil langkah yang sesuai,” katanya saat ditemui pada Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, penanganan awal yang telah dilakukan meliputi pemasangan rambu peringatan dan pengurang kecepatan, pengisian retakan menggunakan material aspal, serta penutupan dengan terpal guna mencegah air masuk yang dapat menambah beban timbunan.

Selain penanganan sementara, PT CKJT juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui pengukuran topografi untuk memastikan dimensi area terdampak.

Selanjutnya, dilakukan penyelidikan tanah tambahan guna mengidentifikasi lapisan tanah, pengukuran menggunakan instrumen inklinometer untuk mengetahui kedalaman bidang longsor, serta analisis geoteknik untuk menentukan metode perkuatan yang tepat.

“Penanganan jangka panjang direncanakan menggunakan bore pile dengan kedalaman sekitar 30 meter dan panjang kurang lebih 100 meter,” jelas Sudrajat.

Ia menegaskan, seluruh proses evaluasi dan perbaikan dilakukan sesuai standar teknis serta prosedur keselamatan yang berlaku.

Sudrajat mengungkapkan, total panjang retakan mencapai sekitar 80 meter dengan kedalaman vertikal kurang lebih 2 meter.

Baca Juga:Elnusa Bidik Status 'Low-Cost Operator' Dunia: Targetkan Efisiensi Operasi Hingga 25%Dari Desa Terdampak Bencana ke Mandiri Energi, Program Pertamina Ubah Nasib Warga

Menurutnya, retakan tersebut dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan pergerakan tanah.

“Pasca kejadian tersebut, kami langsung melakukan identifikasi serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase,” paparnya.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sistem drainase berfungsi optimal sehingga dapat meminimalkan risiko lanjutan.

Atas diskresi kepolisian, arus lalu lintas di main road KM 194 A ditutup sementara, dan kendaraan dari arah Bandung menuju Cirebon dialihkan keluar melalui Gerbang Tol Paseh.

Selain itu, PT CKJT juga memberlakukan skema contra flow di jalur B, khususnya untuk arah menuju Bandung, mulai dari KM 206+125 hingga KM 208+200.

0 Komentar