Kasus Campak Meningkat, Imunisasi Digencarkan: Ratusan Anak Jadi Sasaran

Seorang dokter menyuntikkan vaksin campak kepada balita di Puskesmas Gumuruh, Kota Bandung, Selasa (7/4). Peme
Seorang dokter menyuntikkan vaksin campak kepada balita di Puskesmas Gumuruh, Kota Bandung, Selasa (7/4). Pemerintah Kota Bandung menggencarkan layanan sepekan mengejar imunisasi (Penari) bagi balita dengan membuka jadwal vaksinasi yang sebelumnya setiap dua minggu sekali kini setiap minggu guna mencegah penyebaran virus campak. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Kesehatan mencatat hingga Maret 2026 terdapat 248 kasus suspek campak, dengan 28 kasus telah terkonfirmasi. Seluruh pasien dilaporkan telah membaik tanpa adanya kasus kematian.

Menanggapi hal tersebut, Puskesmas Gumuruh mengintensifkan pelaksanaan imunisasi kejar guna mencegah penyebaran penyakit campak, khususnya pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.

Penanggung jawab program imunisasi Puskesmas Gumuruh, Susi, mengatakan bahwa kegiatan imunisasi kejar dilakukan secara aktif, baik di posyandu maupun di puskesmas.

Baca Juga:Pendaftaran SNBT Masih Dibuka, POLSUB Ajak Generasi Muda Raih Masa Depan IndustriRAYA CITY ESCAPE: Pengalaman Menginap Lebih Lama di DE BRAGA BY ARTOTEL

“Alhamdulillah, untuk kegiatan imunisasi kejar ini kita laksanakan di posyandu dan juga di puskesmas. Kegiatan ini bertujuan mengejar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak sama sekali, sekaligus melengkapi imunisasi lain yang belum didapat,” ujarnya kepada Jabareskpres, Selasa (7/4).

Sasaran utama program ini adalah anak usia 0 hingga 59 bulan. Dalam satu hari pelaksanaan di posyandu, rata-rata sekitar 15 anak mengikuti imunisasi.

“Rentang usia sampai 5 tahun, bahkan usia 4 tahun juga masih ada yang dikejar imunisasinya. Jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi tetap kita upayakan semua terjangkau,” tambahnya.

Susi juga menegaskan bahwa imunisasi campak umumnya tidak menimbulkan efek samping berat.

“Untuk imunisasi campak, biasanya tidak ada efek samping yang berat, seperti demam juga tidak ada,” jelasnya.

Selain pelayanan di fasilitas kesehatan, petugas juga melakukan kunjungan langsung ke rumah warga untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Upaya ini dilakukan dengan pendekatan persuasif kepada orang tua.

“Saat kunjungan rumah, biasanya kita tanyakan alasan tidak mau imunisasi, lalu kita jelaskan efek samping imunisasi seperti apa, dan bagaimana dampaknya ke depan kalau tidak imunisasi,” katanya.

Baca Juga:Diduga Ada Tambang Ilegal dan Penyerobotan Lahan, Warga Kuningan Mengadu ke Bale PananggeuhanHalal Bihalal IPPU Jabar 2026 di Bandung: Pererat Silaturahmi, Bangkitkan Peran Strategis Pensiunan

Menurutnya, meningkatnya kasus campak sebelumnya turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi.

“Alhamdulillah mereka mau, karena ada kekhawatiran setelah kemarin cukup banyak yang sakit campak. Jadi kita terus memotivasi untuk imunisasi,” ungkapnya.

Ia berharap seluruh tenaga kesehatan tetap dalam kondisi sehat agar program imunisasi kejar dapat terus berjalan optimal.

“Walaupun kegiatan banyak, imunisasi kejar terus dilakukan, baik di lapangan maupun di dalam gedung. Semoga semuanya sehat,” pungkasnya. (dam)

0 Komentar