Ia menambahkan, kebakaran tidak hanya terjadi di permukiman warga, tetapi juga di sektor industri. Salah satu kasus besar terjadi di pabrik mebel saat bulan puasa, yang menimbulkan kerugian besar.
“Terakhir itu pabrik mebel kemarin ya waktu puasa. Pabrik mebel itu kan dari korsleting listrik, saat pegawainya udah pulang, itu korslet, kebakar itu hampir 100 sekian miliar gitu kerugiannya,” tutur Achmad.
Dalam upaya peningkatan kapasitas, Damkar Cimahi juga menjalin koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk PLN. Pelatihan teknis bahkan pernah dilakukan untuk meningkatkan pemahaman petugas terkait kelistrikan.
Baca Juga:Cerita Unik Damkar Cimahi: Padamkan Api, jadi Psikolog Putus Cinta hingga Rayakan Ulang Tahun WargaDamkar Petakan Titik Rawan, Permukiman Padat di Cimahi Rentan Kebakaran
“Karena terus terang saja kalau jadi Damkar itu multitalenta. Iya, bukan hanya pemadam kebakaran, mereka harus tahu listrik, mereka harus tahu penyelamatan hewan, tumbuhan atau manusia begitu,” kata Achmad.
Namun di balik capaian tersebut, Damkar Cimahi masih menghadapi tantangan serius, terutama keterbatasan personel dan minimnya jumlah pos layanan. Idealnya, satu pos melayani tiga kelurahan agar respons bisa lebih cepat.
“Satu pos untuk tiga kelurahan, idealnya gitu. Jadi pos Damkar ya bukan mako, kalau mako mah tetep satu begitu,” ungkap dia.
Saat ini, Damkar Cimahi memiliki 12 armada dengan enam unit pancar, yang dinilai masih mencukupi untuk cakupan wilayah tiga kecamatan. Namun dari sisi sumber daya manusia, jumlahnya masih jauh dari ideal.
“Kita bagi dalam tiga regu ya, tiga danton lah. Jadi satu danton itu 15 orang, jadi kurang memenuhi syarat kalau misalkan itu dibagi untuk tiga wilayah kecamatan. Idealnya itu satu mobil itu lima orang. Jadi Kota Cimahi itu 191 orang ideal kalau kita berbicara dengan jumlah armada 191 anggota, nah yang ada sekarang tuh 62,” terangnya.
Meski demikian, Achmad menegaskan pihaknya terus mengoptimalkan kemampuan personel yang ada dengan meningkatkan kompetensi di berbagai bidang.
“Ini, intinya kalau kami, saya sendiri berprinsip bahwa Damkar itu harus punya lima kemampuan. Dia harus bisa jadi fighter, dia jadi helper, dia bisa jadi operator pembawa mobil itu sopir mobilnya, dia juga harus bisa jadi rescue, dan terakhir dia harus bisa PDK jadi untuk melakukan asesmen. Jadi kami itu sadar ketika anggota kami itu sedikit berarti kapasitas mereka harus nambah gitu seperti itu. Nanti masalah itu bisa sedikit banyak tertanggulangi lah seperti itu,” tandas Achmad. (Mong)
