JABAR EKSPRES – Di tepi Jalan Lingkar Barat, Nagreg, Kabupaten Bandung, deretan toko oleh-oleh masih berdiri seperti biasa. Aneka dodol Garut, peuyeum, hingga tempe tersusun rapi di etalase. Namun, suasana tak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Raina (34), pemilik Toko Gini/ Istiqomah Fayyola, sudah hampir satu dekade menggantungkan hidup dari arus lalu lintas di jalur ini.
Selama 10 tahun berjualan, ia hafal betul kapan momen ramai datang dan kapan pembeli mulai jarang berhenti.
Baca Juga:Dua Gelombang Arus Balik Intai Nagreg, 198 Ribu Kendaraan Mengarah ke BandungVolume Kendaraan di Jalur Nagreg Terus Dipantau, One Way Siap Diberlakukan Jika Terjadi Hal Ini!
“Sekitar 10 tahun jualan di sini, dan memang dari dulu di tempat ini terus,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Namun Lebaran tahun ini terasa berbeda. Jika biasanya momentum Idulfitri menjadi puncak penjualan, kali ini justru sebaliknya.
“Turun kayaknya, dibanding tahun kemarin,” kata Raina.
Ia mengaku belum mengetahui pasti penyebabnya. Meski kendaraan yang melintas terpantau ramai, tak banyak yang benar-benar berhenti untuk berbelanja.
“Mungkin mobilnya banyak, tapi yang berhenti sedikit,” ucapnya.
Penurunan itu terasa signifikan. Tahun lalu, omzetnya bisa menembus Rp10 juta dalam sehari semalam saat momen puncak Lebaran. Kini, angka tersebut sulit dicapai.
“Sekarang paling Rp4 sampai Rp6 juta. Bahkan rata-rata harian sekarang sekitar Rp2 sampai Rp3 juta saja, itu juga belum tentu dapat segitu,” katanya.
Menurutnya, karakter pembeli di jalur Nagreg memang berbeda. Jika arus mudik cenderung ramai di jalur lain, Nagreg justru lebih hidup saat arus balik.
“Kalau disini biasanya lebih ramai pas arus balik. Kalau H- (Lebaran) itu biasanya di jalur sana,” jelasnya.
Baca Juga:Volume Kendaraan di Jalur Nagreg Terus Dipantau, One Way Siap Diberlakukan Jika Terjadi Hal Ini!Kolaborasi Lintas Instansi Jaga Arus Mudik-Balik di Nagreg Tetap Lancar
Meski begitu, hingga saat ini ia mengaku belum bisa menutup modal untuk Lebaran tahun ini. Harapannya kini bergantung pada lonjakan pembeli saat arus balik beberapa hari ke depan.
“Lumayan sih, tapi belum balik modal sampai hari ini. Mudah-mudahan sampai hari Minggu bisa,” ujarnya penuh harap.
Tak hanya saat Lebaran, penurunan juga dirasakan pada hari-hari biasa. Raina menyebut kenaikan harga BBM turut berdampak pada daya beli masyarakat.
“Semenjak BBM naik, omzet menurun. Dulu kalau hari Minggu atau malam Senin bisa sampai Rp1 juta dari siang, sekarang sudah turun,” katanya.
