Nobar Pesta Babi di Unpad Jatinangor Sempat Diwarnai Kekhawatiran Dibubarkan

Momen ketika ratusan mahasiswa tengah fokus menyaksikan film dokumenter Pesta Babi di kampus Unpad Jatinangor
Momen ketika ratusan mahasiswa tengah fokus menyaksikan film dokumenter Pesta Babi di kampus Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang. (Yanuar Baswata/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjadjaran (Unpad), Enaldi, mengaku sempat khawatir saat merencanakan kegiatan nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film dokumenter Pesta Babi.

Kegiatan tersebut diketahui berlangsung di Aula Fakultas Seni dan Budaya Unpad Kampus Jatinangor pada Selasa (20/5/2026). Antusiasme peserta cukup tinggi. Berdasarkan data dari QR Code verifikasi daftar hadir, tercatat sekitar 350 mahasiswa mendaftar. Ditambah peserta yang datang langsung ke lokasi, total peserta diperkirakan hampir mencapai 400 orang.

Dalam kegiatan itu, panitia menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya dosen Departemen Hukum Lingkungan, Tata Ruang, dan Agraria Unpad, Dr. Nadia Astriani; dosen Sosiologi Pedesaan dan Kebijakan Unpad, Dr. Tomi Setiawan; serta dosen Komunikasi, Jurnalistik, dan Media Dokumenter Unpad, Dr. Abie Besman.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Tancap Gas Benahi Jalan Rusak, 32 Ruas Masuk PrioritasSokoguru Policy Forum Bahas Strategi Ketahanan dan Transisi Energi Nasional

Enaldi mengatakan, dirinya sempat khawatir kegiatan nobar dan diskusi tersebut akan dibubarkan oleh aparat TNI-Polri.

“Oke, yang pertama kami tentu khawatir ya. Sekalipun kami menganggap kampus adalah ruang akademik yang harus dijaga, tetapi ternyata di berbagai tempat bahkan di dalam kampus sendiri pernah terjadi pembubaran,” kata Enaldi kepada Jabar Ekspres.

“Bahkan mungkin dari pihak rektorat atau eksternal, misalnya dari TNI dan lain-lain, yang membubarkan,” tambahnya.

Sebelum digelar di Kampus Jatinangor, pemutaran film dokumenter Pesta Babi sebenarnya sempat direncanakan berlangsung di Kampus Dipati Ukur (DU), Kota Bandung. Namun, agenda tersebut batal terlaksana.

Menurut Enaldi, pembatalan itu bukan karena adanya penolakan terhadap kegiatan, melainkan faktor administratif.

“Sebelumnya kegiatan ini direncanakan dilaksanakan hari Sabtu di kampus DU. Sebenarnya surat izinnya sudah keluar, namun karena pertimbangan long weekend, kampus menganggap tidak ada staf yang berjaga karena libur dan lain-lain,” ujarnya.

“Sehingga secara administratif tidak memungkinkan dilaksanakan pada hari Sabtu, meskipun surat sebelumnya sudah keluar. Surat pembatalan itu juga mengizinkan kegiatan dilaksanakan di luar tanggal 14 sampai 17 Mei 2026,” lanjutnya.

Baca Juga:Dua Maling Gasak Sepeda Motor di Gunung Putri Bogor, Lepaskan Tembakan Saat KaburSoal Ulat di Menu MBG, Komisi IV DPRD Tasikmalaya: Mengecewakan! Makan Bergizi Tapi Tidak Higienis

Karena itu, Enaldi menilai pembatalan tersebut tidak berkaitan dengan penolakan dari pihak kampus. “Tidak ada hal-hal yang bersifat tendensius dari kampus,” imbuhnya.

0 Komentar