JABAR EKSPRES – Pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun bukan tanpa alasan. Itu memperhatikan persiapan psikologis hingga antisipasi dampak negatif media sosial bagi anak.
Hal itu ditegaskan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Senin (9/3). Menurutnya, ada beberapa alasan penundaan akses bagi anak itu dilakukan. Sehingga dikeluarkan peraturan pembatasan tersebut.
Pemerintah menunda akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai langkah perlindungan anak. Yakni dari berbagai risiko yang ada di ruang digital, mulai dari kecanduan gawai hingga paparan konten berbahaya.
Baca Juga:Doa Lailatul Qadar Lengkap dengan Artinya, Amalan di 10 Malam Terakhir RamadanRide of Happiness Ajak 100 Anak Yatim Berbagi Kebahagiaan Ramadan
Pemerintah bukan melarang anak menggunakan teknologi, melainkan memastikan anak memiliki kesiapan mental dan psikologis terlebih dahulu sebelum memasuki ruang media sosial yang kompleks. “Kalau dari hasil berbagai diskusi dan pertimbangan, usia yang pas itu ya 16 tahun, ” katanya dalam keterangan resmi.
Pihaknya juga tidak memutuskan sepihak. Pembatasan itu telah melalui diskusi dan berbagai kajian yang panjang. Termasuk melibatkan berbagai pakar dibidangnya.
Salah satu yang memprihatinkan adalah terkait risiko paparan media sosial. Misalnya kecanduan digital, paparan konten negatif, perundungan siber, hingga penipuan daring.
Apalagi saat ini juga tengah berkembang penggunaan AI. Tantangan yang terjadi, konten asli dan manipulasi makin sulit dibedakan. “Pemerintah hadir, agar orang tua tidak sendirian dalam mengawasi anaknya di ruang digital, ” cetusnya.
Kebijakan itupun disambut baik sejumlah pakar atau praktisi. Misalnya Pendiri Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan Najeela Shihab.
Menurutnya kebijakan itu adalah langkah yang tepat. Hal itu langkah penting untuk memperkuat pelindungan anak di era digital.
Ia juga menegaskan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berdampak negatif. Seperti meningkatnya kecanduan gawai, kekerasan daring, hingga menurunnya konsentrasi belajar. Itu berdasarkan berbagai penelitian yang telah banyak berkembang.
“Anak tetap masih bisa mengak
