JABAR EKSPRES – Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai belum bisa melesat tinggi apabila tiga sektor penopang utamanya belum menunjukkan penguatan yang konsisten.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menegaskan bahwa struktur pembiayaan UMKM saat ini masih sangat bergantung pada sektor perdagangan, pertanian, serta industri pengolahan.
Sekitar 75 persen portofolio kredit UMKM terkonsentrasi di tiga sektor tersebut. Perdagangan besar dan eceran menyumbang porsi terbesar, yakni 45 persen. Disusul sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 19,4 persen, serta industri pengolahan atau manufaktur.
Baca Juga:Menaker Pastikan Bonus Hari Raya Ojol Diumumkan Bersamaan dengan THRIndonesia Siap Naik Kelas, 15 Ribu Insinyur Ditargetkan Kuasai Teknologi Desain Chip Global
“Kalau sektor-sektor tersebut belum tumbuh secara konsisten, misalnya pertanian rata-rata masih tumbuh di 2,4 persen, memang sangat sulit untuk mendorong pertumbuhan sektor UMKM lebih agresif lagi,” kata Andry dikutip dari ANTARA, Kamis (26/2/2026).
Ketiga sektor tersebut menjadi contributor terbesar terhadap produk domestic bruto (PDB) Indonesia.
Ia mencatat bahwa dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih tertinggal (lagging) yakni sebesar 2,4 persen.
Sedangkan, perdagangan dan manufaktur rata-rata tumbuh masing-masing sebesar 5 persen dan 4,8 persen dalam tiga tahun terakhir.
Adapun untuk pertumbuhan kredit industry perbankan pada tahun ini diperkirakan berada di kisaran high single digit hingga low double digit, yaitu sekitar 9-11 persen.
Andry memperkirakan pertumbuhan kredit UMKM akan berada di kisaran 4-5 persen, sehingga pertumbuhan pada level 4 persen saja dinilai sudah cukup baik. ‘
Selain itu, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan diperkirakan menurun menjadi sekitar 17 persen, dari sebelumnya 19 persen.
Baca Juga:Tak Lagi Terpusat di Jawa, Menaker Dorong Magang Nasional 2026 Menjangkau Semua ProvinsiSinergi Aparat Meningkat, Bea Cukai Sita 249 Juta Batang Rokok Ilegal di Januari 2026
Menurutnya, prospek kredit UMKM masih cukup terbuka, terutama melalui program pemerintah yang mendukung usaha.
Ia juga turut menggarisbawahi bahwa salah satu tantangan utama bagi UMKM adalah memastikan keberadaan off-taker yang jelas.
Apabila, UMKM sudah terintegrasi dalam ekosistem, maka keberadaan off-taker menjadi jelas sehingga mempermudah akses pembiayaan berbasis invoice (invoice-based loan) dan menciptakan sumber kredit yang lebih aman bagi perbankan.
